Air Mata Untuk Affan: Driver Ojol yang  Tewas Dilindas Barracuda Saat Demo

Duka untuk Affan
Driver Ojol, Muhammad Affan tewas dilindas Barracuda Foto : ist
0 Komentar

Di luar rumah sakit, rekan-rekan Affan sesama pengemudi ojol menyalakan lilin. Beberapa buruh yang kemarin ikut aksi juga hadir, berdiri di bawah langit malam Jakarta yang masih menyisakan aroma gas air mata.

Mereka berdoa bersama, melantunkan tahlil, dan menyanyikan lagu perjuangan dengan suara parau. Di tengah lingkaran itu, helm ojol berwarna hijau diletakkan di tanah, sebagai simbol bahwa seorang kawan telah berpulang.

Solidaritas lintas kelompok pun bermunculan. Mahasiswa yang ikut aksi siang harinya mengirim karangan bunga. Serikat buruh menunda agenda aksi susulan sebagai bentuk penghormatan. Semua seolah sepakat, di balik perbedaan tuntutan, ada satu kesedihan yang sama: kehilangan nyawa rakyat di jalanan.

Baca Juga:Link Streaming, Susunan Pemain, H2H, Link Streaming Dewa United Vs Persija! Duel Sengit Tanpa Penonton!Parah! Manchester United Dipermalukan Grimsby Town: Klub Divisi Empat Inggris!

Di rumah sederhana Affan, istri dan anak-anaknya menunggu dengan perasaan tak karuan.Tetangga membantu menyiapkan rumah untuk menyambut jenazah.

Tragedi ini menambahkan satu bab baru dalam catatan panjang demonstrasi di Indonesia. Dari tahun ke tahun, rakyat turun ke jalan menuntut hak. Dari tahun ke tahun pula, cerita luka selalu menyertai. Kini, nama Affan Kurniawan menambah daftar itu.

Namun berbeda dengan catatan-catatan lama yang sering hanya dibicarakan dalam seminar atau arsip, duka ini terasa nyata, dekat dengan kehidupan sehari-hari. Sebab Affan bukan figur besar. Ia pengemudi ojek online, sosok yang tiap hari kita temui di pinggir jalan, yang jasanya kita gunakan untuk mengantar makanan, mengirim barang, atau menjemput anak. Kehilangannya adalah kehilangan yang bisa dirasakan semua orang.

Jakarta kini tidak hanya mencatat ricuh, tidak hanya mencatat tuntutan, tetapi juga mencatat air mata. Sebuah tragedi di depan DPR mengingatkan bahwa di balik slogan demokrasi, nyawa rakyat tetap yang paling rapuh.

Di rumah sakit, di rumah korban, di jalan-jalan tempat rekan ojol berkumpul, suasana sama: berkabung. Tidak ada teriakan, tidak ada lagi tuntutan. Hanya doa, hanya linangan air mata, dan hanya satu kalimat yang berulang-ulang terdengar:

“Selamat jalan, Affan. Perjuanganmu tidak akan sia-sia.”

0 Komentar