Gelombang Pemain Diaspora Balik Kampung, Kekuatan Strategis bagi BRI Super League Atau Turun Kelas??

Sepakbola Indonesia
Dengan hadirnya pemain-pemain berpengalaman dan memiliki latar belakang profesional tinggi, kualitas kompetisi di level klub pasti terdongkrak. Foto: Ig sepakbolaid/tangkap layar - radarcirebon.tv
0 Komentar

RADARCIREBON.TV- Sepak bola Indonesia kini memasuki babak baru yang menjanjikan.

Bersamaan dengan bergulirnya musim baru BRI Super League 2025/2026, terjadi fenomena signifikan, gelombang pemain naturalisasi atau diaspora yang sebelumnya berkiprah di liga Eropa, secara aktif memilih untuk kembali menorehkan karier di tanah air.

Keputusan ini atas nama profesionalisme, pengembangan kompetisi domestik, dan suntikan kualitas nyata bagi Tim Nasional Indonesia.

Baca Juga:Rp Milyaran Dihabiskan untuk Dua Rekrutan Bintang, Persib Jadi Klub Termahal di BRI Super League Musim IniAmorim Sebut MU Belum Siap, Realitas Kelam Setan Merah Jelang Era Baru

Kekuatan Strategis dan Kebangkitan Skuad Garuda

Salah satu contohnya adalah Thom Haye, gelandang yang pernah bermain di Eredivisie Belanda, resmi diumumkan bergabung bersama Persib Bandung pada akhir Agustus 2025.

Kepulangannya menjadi salah satu momen paling mencolok setelah beberapa nama lain yang juga telah merapat sejak awal musim ini.

Fenomena ini mendapat sambutan positif dari PSSI. Ketua Umum PSSI, Erick Thohir, menegaskan bahwa anggapan bahwa pemain diaspora “turun kelas” saat bermain di Liga 1 adalah persepsi keliru.

Menurutnya, setiap pemain memiliki hak penuh untuk memilih jalur karier profesional, dan kembali ke Tanah Air bukanlah kemunduran, melainkan bagian dari proses membangun karier berkelanjutan.

Dengan hadirnya pemain-pemain berpengalaman dan memiliki latar belakang profesional tinggi, kualitas kompetisi di level klub pasti terdongkrak.

Mereka tidak hanya memperkuat lini tim, tetapi juga membawa mentalitas, budaya latihan, dan standar profesionalitas yang lebih tinggi, nilai-nilai yang berpotensi menular ke rekan lokal.

Lebih jauh lagi, hal ini merupakan bentuk investasi tak langsung bagi PSSI dalam membina regenerasi talenta muda.

Baca Juga:Sesko Debut Starter di MU, Statistik Kontra Grimsby Bikin Geleng KepalaErick Thohir Soroti Kedatangan Thom Haye ke Persib, Pesan Penting untuk Apresiasi Pemain Diaspora di Liga 1

Namun, kebijakan yang mempermudah gelombang diaspora ini bertemu dengan kritik dan kekhawatiran dari berbagai pihak.

APPI (Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia) dan sejumlah pengamat sepak bola nasional memperingatkan bahwa memasukkan hingga sebelas pemain asing (termasuk diaspora atau naturalisasi) dalam skuad tiap klub dapat menekan peluang menit bermain pemain lokal, serta menciptakan ketimpangan dalam pembinaan nasional.

Pengamat seperti Akmal Marhali bahkan menyebut kuota delapan hingga sebelas pemain asing per tim sebagai langkah berlebihan dan tidak sejalan dengan transformasi sepak bola yang tengah dikampanyekan oleh PSSI.

0 Komentar