Ia menekankan bahwa kompetisi domestik seharusnya memberi ruang signifikan bagi talenta lokal, terutama dari kelompok usia U19 dan U23 sebagai bagian dari regenerasi yang berkesinambungan.
Selain itu, ada kekhawatiran terkait beban finansial untuk klub. Pemain asing alias diaspora biasanya memiliki banderol gaji dan fasilitas lebih tinggi, sesuatu yang bisa memberatkan klub yang belum memiliki struktur keuangan stabil.
Kasus klub-klub yang pernah kena sanksi FIFA karena menunggak gaji pun menjadi pengingat penting akan risiko tersebut.
Baca Juga:Rp Milyaran Dihabiskan untuk Dua Rekrutan Bintang, Persib Jadi Klub Termahal di BRI Super League Musim IniAmorim Sebut MU Belum Siap, Realitas Kelam Setan Merah Jelang Era Baru
Dampak dari naturalisasi ini juga berbicara langsung kepada prestasi Timnas. Kehadiran pemain-pemain berdarah diaspora yang menambah kedalaman dan kualitas skuad, telah terbukti meningkatkan performa di level internasional, baik di Piala Asia maupun Kualifikasi Piala Dunia.
Indonesia sukses mencapai putaran kedua dan ketiga kualifikasi, bahkan meraih kemenangan gemilang 2-0 atas Arab Saudi pada November 2024. Momentum ini sekaligus mengerek peringkat FIFA dan reputasi timnas di kancah Asia.
Secara garis besar, skema naturalisasi membawa double benefit. Di satu sisi, terus memperkuat kualitas kompetisi domestik dan mempercepat profesionalisasi liga.
Di sisi lain, memperkaya materi pemain Timnas yang siap bersaing di level tertinggi. Namun, segala manfaat itu hanya akan optimal jika diseimbangkan dengan kebijakan yang adil, memperhatikan pengembangan talenta lokal, dan menjaga kesehatan finansial klub.
Penyesuaian kebijakan menjadi sangat penting. Ketua Umum PSSI Erick Thohir telah mengingatkan akan perlunya waktu bermain minimal 45 menit untuk pemain U23 sebagai bukti komitmen pembinaan.
Surat resmi telah dikirim kepada operator liga (PT LIB) untuk meninjau ulang jumlah pemain asing secara makro dan mendetail, agar tidak bertabrakan dengan visi regenerasi nasional.
Kesimpulannya, fenomena pemain diaspora yang kembali ke BRI Super League bukan hanya isu transfer, tapi sinyal kuat bahwa sepak bola Indonesia tengah mengalami fase adaptasi ulang.
Baca Juga:Sesko Debut Starter di MU, Statistik Kontra Grimsby Bikin Geleng KepalaErick Thohir Soroti Kedatangan Thom Haye ke Persib, Pesan Penting untuk Apresiasi Pemain Diaspora di Liga 1
Dengan memaksimalkan potensi luar dan tetap menjaga ruang tumbuh talenta lokal, Indonesia memiliki peluang membangun liga yang kompetitif serta Timnas yang lebih siap bersaing di level global.
Tantangan terbesar kini adalah bagaimana menjaga keseimbangan antara profesionalisme global dan keberlanjutan pembinaan dalam negeri.