Benar saja, hanya butuh 12 menit bagi Persija untuk kembali unggul. Menit ke-63, sepak pojok Hanif Sjahbandi disambar Van Basty Sousa dengan tandukan keras. Sonny Stevens mati langkah. Skor berubah 2-1 untuk Persija.
Gol itu bukan hanya membuat Persija kembali di atas angin, tapi juga meluluhlantakkan semangat juang tuan rumah. Dewa United kembali gamang, pola serangan mereka monoton, dan kerap mudah dipatahkan lini belakang Persija.
Menit Akhir: Luka Dewa United Kian Dalam. Dewa United tak menyerah. Mereka terus menggempur, mencoba setidaknya menyelamatkan muka di hadapan publik sendiri. Namun, semakin menyerang, semakin terbuka pula ruang di lini belakang mereka. Persija yang terkenal lihai memanfaatkan serangan balik hanya tinggal menunggu momen.
Baca Juga:Hasil Akhir Dewa United vs Persija Jakarta Macan Kemayoran Amankan Kemenangan 1-3 di Bri Super League Hari iniInsiden Brimob Lindas Ojol Dikecam! Legenda Persija Jakarta, Ramdani Lestaluhu Ikut Angkat Suara
Dan itu benar-benar datang di injury time. Menit ke-92, Allano memanfaatkan ruang kosong. Serangan balik cepat Persija menusuk jantung pertahanan Dewa United. Dengan dingin, Allano menempatkan bola ke tiang jauh, lagi-lagi Sonny Stevens tak berkutik.
3-1. Persija mengunci kemenangan dengan cara meyakinkan, sementara Dewa United tersungkur tak berdaya.
Persija ke Puncak, Dewa Terjun Bebas. Kemenangan ini membuat Persija merangkak ke puncak klasemen Super League 2025/2026. Dari empat laga, Macan Kemayoran mengoleksi 10 poin, unggul satu angka dari Borneo FC yang baru tiga kali bertanding. Konsistensi Persija di awal musim seakan jadi peringatan keras bagi para rival: mereka benar-benar serius mengincar gelar.
Di sisi lain, Dewa United tenggelam di papan bawah. Baru menang sekali dan kalah tiga kali, mereka kini terdampar di posisi ke-15 dengan hanya tiga poin. Start yang jauh dari kata ideal.
Kekalahan ini bukan sekadar soal skor. Masalah mendasar Dewa United kembali terekspos. Lini belakang mereka rapuh, koordinasi antar pemain mudah diacak-acak, dan penyelesaian akhir pun angin-anginan. Tim yang seharusnya punya modal pemain berkualitas justru tampil layaknya kesebelasan tanpa arah.
Manajemen Dewa United patut resah. Dengan investasi besar yang mereka lakukan, performa seperti ini jelas tak bisa diterima. Apalagi, kompetisi baru berjalan empat pekan, dan tanda-tanda krisis sudah terlihat. Jika tak segera dibenahi, Dewa United bisa saja jadi kandidat serius penghuni zona degradasi.