Kejadian itu menjadi tamparan keras. Bagaimana tidak? Seorang pejabat kepolisian yang datang membawa niat meredam malah disambut dengan kekerasan. Demonstrasi yang seharusnya menjadi ruang penyampaian aspirasi berubah jadi arena perusakan dan penyerangan.
Jika tujuan massa adalah menyampaikan keluhan dan menuntut keadilan, semua itu hilang ditelan aksi anarki. Apa yang tersisa hanyalah puing-puing gedung, asap kebakaran, dan tangisan seorang satpam yang kehilangan motornya. Tidak ada lagi dialog, yang ada hanya amarah yang membabi buta.
Peristiwa ini menimbulkan pertanyaan besar: siapa yang sesungguhnya diuntungkan dengan aksi brutal semacam ini? Masyarakat? Rakyat kecil seperti Imron? Atau justru pihak-pihak tertentu yang sengaja memancing kekacauan demi keuntungan politik?
Baca Juga:Breakingnews! Masa Demo di Cirebon Bakar Gedung DPRD Kabupaten CirebonBreakingnews! Demonstrasi di Cirebon Ricuh: Banyak Fasilitas Rusak, Situasi Mencekam!
Kondisi di lapangan memperlihatkan bahwa aparat pun tidak lepas dari tekanan. Sejumlah fasilitas kepolisian ikut dirusak. Anggota yang berjaga dihadapkan pada massa yang jumlahnya jauh lebih besar, sementara narasi yang beredar di publik justru sering kali menyudutkan mereka. Padahal, polisi datang untuk menjaga agar situasi tidak merembet ke kerusuhan lebih luas.
Kapolres Sumarni sendiri dikenal sebagai sosok yang terbuka dan komunikatif. Upayanya hadir langsung di tengah kerumunan menjadi bukti keberanian. Namun, apa balasannya? Ancaman senjata tumpul dan hujan batu. Fakta ini seharusnya membuka mata semua pihak bahwa yang sedang terjadi bukan lagi demonstrasi biasa, melainkan pergeseran menuju kerusuhan massal.
Kisah Imron hanyalah sekelumit dari dampak nyata di lapangan. Ratusan pegawai di lingkungan DPRD Kabupaten Cirebon kini kehilangan tempat bekerja sementara. Ruang-ruang sidang porak poranda. Dokumen penting hancur terbakar. Layanan publik tersendat. Banyak barang hilang, sementara aparat kepolisian harus merawat anggotanya yang terluka akibat bentrok.
Tetapi luka sosial paling dalam adalah hancurnya kepercayaan. Demonstrasi yang seharusnya memperlihatkan kekuatan rakyat berubah jadi tontonan mengerikan yang merugikan rakyat kecil sendiri. Saat seorang satpam bernama Imron harus berjalan kaki pulang karena motornya terbakar, di situlah terlihat betapa salah arah aksi ini.
Demonstrasi yang berakhir ricuh di DPRD Kabupaten Cirebon telah meninggalkan luka panjang. Gedung rusak, aparat diserang, dan seorang satpam kehilangan motor yang menjadi tumpuan hidupnya. Semua itu seharusnya menyadarkan kita bahwa kekerasan bukan solusi. Aspirasi tidak akan pernah sampai jika disampaikan lewat api, batu, dan teror.