Dinas Lingkungan Hidup Kota Cirebon (DLH) terus berupaya memperkuat pengelolaan sampah. Namun, Pusat Daur Ulang (PDU) masih terbelit keterbatasan anggaran, peralatan, dan armada pengangkut.
Pusat Daur Ulang (PDU) Kota Cirebon setiap tahun mengeluarkan biaya operasional sekitar 200 juta rupiah. Jika digabung dengan belanja pegawai, totalnya mencapai 500 juta rupiah dan masih mengandalkan APBD Kota.
Kepala Bidang Pengelolaan Sampah dan Limbah B3, Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Cirebon, Solihin, menjelaskan, rencana pengadaan mesin hybrid untuk mempermudah pengolahan sampah terpaksa tertunda. Pengajuan dinilai tidak akan terkejar di Tahun 2025 karena alat tersebut merupakan rakitan.
Baca Juga:Perumda Air Minum Tirta Giri Nata Raih Penghargaan Gubernur JabarPohon Tumbang Timpa Warung di Jalan Kalijaga – Video
Mesin hybrid disebut sangat dibutuhkan, mengingat negara maju sekalipun masih berat dalam mengelola sampah. Solihin menegaskan, tugas PDU bukan mencari sampah, melainkan mengurangi sampah yang masuk ke TPS (Tempat Penampungan Sementara) agar umur TPA Kopi Luhur dapat lebih panjang.
Aktivitas pemulung tidak menjadi permasalahan, karena mereka sudah memiliki pelanggan tetap. Terkait anggaran, Solihin mengaku koreksi atau pemangkasan pasti berdampak pada operasional. Namun, ia berharap kondisi tersebut tidak berlarut-larut.
Hingga kini, kerja sama dengan instansi lain masih terbilang minim. PDU terus menawarkan kerja sama dengan sekolah, lembaga, maupun pihak swasta untuk mendukung operasional. Selama ini PDU masih menjemput sampah dari mitra dan terbatasnya armada menjadi hambatan.
Untuk pengangkutan harian, PDU hanya mengandalkan motor roda tiga untuk mengambil sampah dari rumah warga. Ke depan, Dinas berencana mengajukan pengadaan dump truck.
Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan efisiensi dan kapasitas pengambilan sampah. PDU menilai penambahan armada dan peralatan menjadi kunci untuk memperkuat pengelolaan sampah di Kota Cirebon.