RADARCIREBON.TV – Johann Zarco, pembalap asal Prancis yang saat ini membela tim LCR Honda, mungkin menjadi nama tertua di grid MotoGP. Namun, label veteran yang disandangnya tidak sedikit pun meredupkan ambisinya untuk tetap berada di barisan terdepan, bersaing ketat dengan para pembalap muda bertalenta. Di usia 35 tahun, Zarco justru menunjukkan kepercayaan diri yang tinggi, yang dibuktikan dengan kesepakatan kontrak baru jangka panjang yang mengamankan posisinya hingga akhir musim 2027.
Langkah ini terbilang unik di tengah hiruk-pikuk kontrak mayoritas pembalap yang sebagian besar akan habis pada akhir 2026. Saat nama-nama top lain sibuk menimbang-nimbang negosiasi masa depan, Zarco, pada jeda paruh musim 2025, telah mengunci perpanjangan dua tahun bersama Honda. Keputusan ini bukan sekadar mencari keamanan karier, melainkan sebuah strategi cerdik untuk memastikan ia terlibat penuh dalam fase transisi besar MotoGP.
Mulai musim 2027, MotoGP akan memasuki era baru dengan perubahan regulasi signifikan, yaitu perpindahan dari mesin 1000cc menjadi 850cc, diiringi pergantian pemasok ban dari Michelin ke Pirelli. Bagi Zarco, momen perubahan radikal seperti ini adalah kesempatan emas yang bisa ia maksimalkan. Dengan pengalaman bertahun-tahun melibas berbagai jenis motor dan kondisi lintasan, ia yakin betul kemampuannya beradaptasi dapat memberikannya keunggulan tak terduga.
Baca Juga:Sentuhan Emas Cristiano Ronaldo di Tengah Duka: Hadiah Menyentuh untuk Keluarga Diogo JotaMisi Hidup Mati Persib di Asia: Hodak Siapkan Kejutan Lawan Bangkok United
Pembalap yang pernah menjadi juara dunia dua kali di Moto2 ini melihat perubahan regulasi sebagai faktor pembuat kejutan yang akan menyamakan kedudukan, di mana pengalaman dan kematangan pembalap akan berbicara lebih lantang. Ia secara terang-terangan menyatakan bahwa dengan aturan dan ban baru tersebut, akan tercipta situasi-situasi di luar dugaan yang akan membuka peluang lebih besar baginya untuk kembali memperebutkan podium, atau bahkan meraih kemenangan.
Zarco mengakui bahwa berhadapan dengan para rookie yang rata-rata berusia awal 20-an justru memberinya motivasi ekstra. Ia ingin terus tampil prima untuk membuktikan bahwa ia masih “segar” dan layak bersanding dengan mereka. Sejak awal musim 2025, meski mengendarai Honda RC213V yang terkenal sulit, ia telah memberikan sinyal positif, bahkan sempat menjadi top rider Honda dengan hasil-hasil yang cukup konsisten di awal musim. Kemenangan bersejarah yang ia raih untuk Honda di Le Mans musim lalu (2024), yang menjadi kemenangan pertama pabrikan Jepang itu di era pasca-Marc Marquez, memperkuat posisinya sebagai ujung tombak pengembangan.
