Pertandingan ini terasa seperti preview final Liga Champions, keras, cepat, dan penuh kecerdikan tersembunyi. Xabi Alonso mempertaruhkan rotasi besar, dan tetap membuat Madrid tampil lebih agresif dibanding City yang datang dengan komposisi penuh tenaga. Sementara Pep Guardiola menunjukkan bahwa dominasinya atas bola bukan sekadar estetika, tetapi bentuk kontrol yang berusaha menenangkan laga yang berpotensi meledak kapan saja.
Ketika peluit babak pertama berbunyi, skor 1-2 hanya menjadi angka yang tak cukup menjelaskan perang di lapangan. Madrid menyerang lebih sering, City menguasai bola lebih lama. Keduanya tampil seperti dua kerajaan sepak bola yang sedang menguji batas masing-masing.
Satu hal yang jelas dari duel ini: babak kedua pada pertandingan Real Madrid dan Manchester City akan lebih sengit lagi, pertandingan seperti ini bukan pengecualian, ini adalah standarnya. Dan standar itu sangat tinggi, sangat keras, dan sangat mematikan.
