Padahal, jetski merupakan cabang olahraga dengan kebutuhan biaya tinggi, mulai dari unit balap, perawatan mesin, suku cadang, hingga dukungan teknisi. Menggunakan jetski sewaan jelas berdampak pada performa, karena atlet harus menyesuaikan diri dengan karakter mesin yang tidak familiar.
Efisiensi Anggaran dan Kesenjangan Dukungan
Secara nasional, pemerintah memang meningkatkan anggaran kontingen Indonesia untuk SEA Games 2025 hingga sekitar Rp60 miliar, dengan fokus pada 17 cabang olahraga unggulan. Namun, kebijakan efisiensi anggaran Kemenpora membuat tidak semua cabang mendapatkan dukungan yang setara.
Jetski menjadi salah satu cabang yang terdampak, meski terbukti mampu menyumbang medali emas. Situasi ini menyoroti adanya kesenjangan dukungan pendanaan antara cabang prioritas dan cabang non-unggulan, meskipun potensi prestasinya nyata.
Baca Juga:Update Hasil SEA Games 2025: Emas Renang Terbuka Lebar! Felix Farrel Tercepat, 9 Wakil Indonesia Lolos FinalMesin Emas SEA Games 2025! Atletik Indonesia Borong 7 Emas, Pecah Rekor dan Lampaui Target Lebih Cepat
Ketua Indonesian Jet Sports Boating Association (IJBA), Fully Aswar, menegaskan bahwa keberhasilan ini diraih dengan kerja keras di tengah keterbatasan.
“Namun demikian, walaupun dengan segala keterbatasan yang ada, kami masih mampu mempertahankan prestasi emas untuk Indonesia. Semoga ke depannya pemerintah tidak lagi pilih kasih dalam mengelola pengembangan prestasi olahraga Indonesia,” ujar Fully dalam keterangannya dari Thailand.Prestasi di Tengah Keterbatasan Jadi Pesan KuatKeberhasilan Aero Sutan Aswar mempertahankan emas SEA Games 2025 menjadi pesan kuat bahwa pembinaan atlet tidak boleh berhenti pada cabang-cabang populer saja. Jetski, meski minim sorotan, telah membuktikan diri sebagai penyumbang prestasi internasional.
Dengan dukungan anggaran yang lebih memadai dan kebijakan pembinaan yang merata, bukan tidak mungkin jetski Indonesia bisa berkembang lebih jauh, bahkan menembus level Asia dan dunia.
SEA Games 2025 kembali mengajarkan satu hal penting: prestasi lahir dari kerja keras atlet, tetapi keberlanjutan prestasi membutuhkan dukungan sistem yang adil dan konsisten.
