Keputusan deportasi manajer juga berdampak pada psikologis atlet. Beberapa rekan tim merasa kurang mendapatkan dukungan, sementara Andi harus tetap fokus bertanding dalam kondisi yang tidak ideal. Situasi ini menimbulkan sorotan publik terkait manajemen pertandingan kickboxing dan perlunya pengawasan ekstra pada ajang internasional.
Analisis Teknis Pertandingan
Dalam semifinal point fighting 50 kg, Andi memulai ronde pertama dengan unggul skor 4-3, bermain cerdas dan menekan lawan sesuai strategi. Namun, permintaan wasit agar lebih agresif pada ronde kedua membuat Andi terpaksa mengambil risiko, yang mengubah ritme permainan. Keputusan ini berimbas pada penilaian skor yang kemudian menjadi kontroversial.
Selain itu, terdapat beberapa momen di mana poin lawan melonjak secara tidak wajar, meski Andi menilai tidak ada teknik yang sah terjadi. Hal ini menimbulkan tanda tanya mengenai konsistensi dan objektivitas wasit dalam menilai pertandingan. Waktu pertandingan yang tidak dihentikan secara tepat juga menambah kerumitan manajemen strategi Andi di lapangan.
Baca Juga:Hasil SEA Games 2025: Duel Panas Lawan Vietnam! Rahmat Erwin Abdullah Pastikan Emas ke-58 IndonesiaSEA Games 2025: Wushu Indonesia Jadi Juara Umum Lampaui Target, 9 Medali Jadi Bukti Dominasi
Kegagalan Andi bukan hanya soal hasil pertandingan, tetapi juga menyentuh aspek fairness dan kredibilitas kompetisi. Publik dan media sosial ramai menyoroti ketidakadilan yang dialami atlet Indonesia. Meskipun gagal ke final, Andi tetap mendapat dukungan luas karena unggul di awal pertandingan dan menunjukkan kemampuan teknis yang mumpuni. Kontroversi ini juga menekankan pentingnya pengawasan ketat terhadap wasit, serta perlunya prosedur yang lebih transparan agar atlet Indonesia dapat bertanding secara adil di SEA Games maupun ajang internasional lainnya.
