Masyarakat di Desa Cigobang, Kabupaten Cirebon menyerukan penolakan terkait keberadaan perkebunan sawit di atas bukit dan lereng.
Masyarakat di Desa Cigobang, Kecamatan Pasaleman, Kabupaten Cirebon, menyerukan penolakan terhadap keberadaan perkebunan sawit yang berlokasi di atas bukit setinggi 28 meter di atas permukaan laut. Akses menuju perkebunan sawit harus melalui jalan terjal yang membelah kawasan hutan yang masih asri dan rindang.
Sejak empat bulan terakhir, tanaman kelapa sawit sudah ditanam dan menginvasi lahan masyarakat seluas empat hektar. Dengan jarak tanam enam meter, tanaman kelapa sawit ditanam di atas bukit dan lereng kawasan hutan Desa Cigobang ini. Keberadaan tanaman kelapa sawit mendapatkan penolakan masyarakat, karena dianggap akan merusak kondisi air tanah terlebih pemukiman warga di Desa Cigobang merupakan kawasan krisis air.
Baca Juga:PAD Kabupaten Cirebon Capai Rp.1 Triliun – VideoKMP Kelurahan Sunyaragi Resmi Beroperasi – Video
Lahan yang digunakan untuk ditanami kepala sawit ini merupakan lahan perseorangan masyarakat dan PT Kelapa Ciung Sukses Makmur sebagai perusahaan yang mengakomodir penanaman sawit melakukan upaya kerjasama melalui penyewaan lahan hingga metode bagi hasil dengan pemilik lahan. Warga yang menolak perkebunan sawit mengungkapkan kekhawatiran terhadap kerusakan air tanah dan potensi memperparah bencana kekeringan.
Sementara, pegiat lingkungan dari Sawala Buana Kecamatan Pasaleman juga mengkritisi alih fungsi kawasan hutan menjadi perkebunan sawit. Karena dianggap berpotensi menimbulkan kerusakan dan kelestarian hutan, serta mengganggu sumber air masyarakat.
Di lain sisi, masyarakat khawatir ekspansi alih fungsi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit bisa menimbulkan bencana longsor, terlebih kelapa sawit ditanam masif di atas bukit dan area lereng perbukitan Desa Cigobang.