Kapten Borussia Dortmund itu terus bangkit setiap kali cedera datang. Ia tetap menjadi pemain kunci bagi klubnya, mencetak gol-gol penting, dan memimpin tim di Bundesliga. Kisah Reus adalah bukti bahwa ketekunan dan kecintaan terhadap sepak bola mampu mengalahkan nasib buruk.
3. Ronaldo Nazario – Fenomena yang Bangkit dari Cedera Mematikan Karier
Cedera lutut parah yang dialami Ronaldo Nazario pada akhir 1990-an hampir mengakhiri kariernya. Cedera tendon patella membuatnya harus menjalani operasi berulang dan absen lama dari lapangan.
Banyak dokter bahkan menyebut kecil kemungkinan Ronaldo bisa kembali ke level elite. Namun, “El Fenomeno” membuktikan bahwa julukan tersebut bukan tanpa alasan.
Baca Juga:Mimpi Biru di Asia: Zulio Cesar Penuh Keyakinan Persib Bandung Siap Melaju Jauh di AFC Champions League 2Gagal Amankan Antoine Semenyo, Man United Alihkan Bidikan ke Target Alternatif Demi Perkuat Lini Serang
Puncak kebangkitannya terjadi pada Piala Dunia 2002. Ronaldo tampil luar biasa, mencetak delapan gol, termasuk dua gol di final melawan Jerman, dan membawa Brasil menjadi juara dunia. Kisahnya kini dikenang sebagai salah satu comeback terbaik dalam sejarah olahraga.
4. Zlatan Ibrahimovic – Cedera Usia 35 Tahun yang Tak Menghentikan Singa
Pada usia 35 tahun, Zlatan Ibrahimovic mengalami cedera ligamen lutut serius saat membela Manchester United. Banyak pihak menilai cedera tersebut akan menjadi akhir kariernya, mengingat usia yang tidak lagi muda.
Namun, Zlatan menolak menyerah. Ia menjalani rehabilitasi dengan intensitas tinggi dan kembali ke lapangan dengan mentalitas yang sama: lapar akan kemenangan.
Bahkan setelah itu, Zlatan masih mampu bersinar bersama LA Galaxy, AC Milan, dan terus mencetak gol penting. Cedera justru mempertegas karakter Zlatan sebagai pemain dengan mental baja dan kepercayaan diri luar biasa.
5. Xavi Hernandez – Cedera yang Membentuk Otak Sepak Bola
Berbeda dari cedera fisik berat, Xavi Hernández sempat mengalami cedera kronis pada bagian kaki di awal kariernya. Cedera tersebut membuatnya harus mengubah gaya bermain, tidak lagi mengandalkan fisik semata.
Alih-alih tenggelam, Xavi justru berkembang menjadi gelandang dengan visi dan kecerdasan luar biasa. Ia memaksimalkan teknik, akurasi umpan, dan pemahaman taktik. Hasilnya, Xavi menjadi otak permainan Barcelona dan timnas Spanyol, memenangkan Liga Champions, La Liga, hingga Piala Dunia 2010.
