RADARCIREBON.TV- Malam itu menjadi salah satu momen paling emosional dalam karier Aditya Warman.
Di tengah atmosfer kompetitif BRI Super League, pemain muda tersebut akhirnya mencatatkan gol pertamanya di kasta tertinggi sepak bola nasional. Namun, gol itu bukan sekadar torehan statistik atau pencapaian profesional. Lebih dari itu, gol tersebut menjadi persembahan penuh makna untuk sang ibunda tercinta yang telah lebih dulu meninggal dunia.
Ketika bola hasil sepakan Aditya Warman bersarang di gawang lawan, sorak sorai penonton menggema di stadion. Namun di balik riuh tepuk tangan dan teriakan suporter, tersimpan kisah haru tentang seorang anak yang menggenapi janji kepada ibunya melalui lapangan hijau. Selebrasi sederhana dengan tatapan ke langit menjadi simbol emosi yang tak terucap.
Baca Juga:Jelang Persib Vs Persija Pekan Depan, Persija Tak Gentar Main di Bandung, Siap Curi Poin MaksimalSinyal Kekuatan Baru Maung Bandung: Frans Putros Kembali, Persib Tetap Prioritaskan Misi Krusial di Kediri
Gol Pertama yang Sarat Makna Emosional
Gol perdana Aditya Warman di BRI Super League datang pada momen yang sangat penting, baik bagi tim maupun bagi dirinya secara pribadi. Setelah melalui sejumlah pertandingan dengan menit bermain terbatas, kesempatan yang ia dapatkan akhirnya terbayar lunas. Dengan ketenangan dan keyakinan, Aditya mampu menuntaskan peluang menjadi gol yang bersejarah dalam kariernya.
Namun, gol tersebut terasa istimewa karena lahir dari perjalanan panjang yang penuh pengorbanan. Kehilangan ibunda menjadi salah satu ujian terberat dalam hidup Aditya. Di tengah tuntutan profesionalisme sebagai pesepak bola, ia harus belajar berdamai dengan duka dan menjadikannya sebagai kekuatan, bukan kelemahan.
Bagi Aditya, gol itu adalah pesan. Pesan bahwa perjuangan sang ibu yang selalu mendukungnya sejak awal kini terbayar. Bahwa setiap tetes keringat dan air mata yang pernah jatuh tidak pernah sia-sia.
Peran Sang Ibu dalam Perjalanan Karier
Sosok ibunda Aditya Warman dikenal sebagai pendukung paling setia dalam hidupnya. Sejak kecil, sang ibu selalu berada di belakang layar, memastikan Aditya tetap berlatih, menjaga disiplin, dan tidak menyerah pada keadaan. Dalam berbagai fase sulit, dukungan moral dari ibunya menjadi bahan bakar utama yang mendorong Aditya untuk terus melangkah.
Ketika sang ibu meninggal dunia, Aditya sempat berada di titik terendah. Sepak bola yang selama ini menjadi tempat pelarian berubah menjadi medan perjuangan emosional. Namun, seiring waktu, Aditya memilih menjadikan kepergian ibunya sebagai motivasi untuk menjadi pribadi dan pemain yang lebih kuat.
