RADARCIREBON.TV- Laga Persib Bandung kontra Persija Jakarta selalu lebih dari sekadar pertandingan sepak bola.
Ini adalah duel harga diri, sejarah panjang rivalitas, dan emosi yang mengikat jutaan pendukung di seluruh Indonesia. Namun pada pertemuan terbaru kedua tim, sorotan tidak hanya tertuju pada hasil akhir atau atmosfer stadion, melainkan pada adu kualitas dua pemain naturalisasi Timnas Indonesia: Thom Haye dan Jordi Amat. Keduanya tampil sebagai figur sentral yang mencerminkan pertarungan kecerdasan, pengalaman Eropa, serta kepemimpinan di atas lapangan.
Rivalitas Abadi, Panggung Besar bagi Dua Jenderal Lapangan
Pertandingan Persib vs Persija kali ini datang dalam situasi krusial bagi kedua tim di papan atas Liga 1. Persib mengincar konsistensi untuk menjaga posisi mereka dalam perburuan gelar, sementara Persija berusaha menegaskan diri sebagai penantang serius dengan skuad yang semakin matang. Di tengah tensi tinggi itulah, kehadiran Jordi Amat di lini belakang Persib dan Thom Haye di jantung permainan Persija menjadi simbol duel tak kasatmata yang menentukan arah permainan.
Baca Juga:12 Posisi Terbaru Klasemen BRI Super League 2025/2026 yang Bikin Musim Makin Tak Terduga!Mengapa Mike Rajasa Terpukau dengan Gaya Kepelatihan Nova Arianto?
Jordi Amat, bek berpengalaman dengan jam terbang panjang di Eropa, tampil sebagai komandan pertahanan Maung Bandung. Di sisi lain, Thom Haye berperan sebagai otak permainan Macan Kemayoran, mengatur tempo, distribusi bola, sekaligus menjadi penghubung antara lini tengah dan depan. Pertemuan keduanya bukan duel langsung seperti striker melawan bek, tetapi adu kecerdasan posisi, pembacaan permainan, dan kepemimpinan.
Thom Haye: Arsitek Permainan Persija
Sejak menit awal, Thom Haye menunjukkan perannya sebagai pengendali ritme. Ia tidak sekadar mencari bola, tetapi aktif membuka ruang, turun menjemput bola dari bek, dan mengarahkan rekan-rekannya untuk menjaga struktur permainan. Umpan-umpan pendek akurat dan sesekali bola panjang terukur menjadi senjata utama Persija dalam membangun serangan.
Keunggulan Haye terlihat dari kemampuannya tetap tenang di bawah tekanan. Dalam laga dengan intensitas setinggi derby, ia jarang terburu-buru. Saat Persib mencoba menekan tinggi, Haye memilih solusi sederhana: satu sentuhan, pergerakan tanpa bola, dan distribusi cepat. Keberadaannya membuat Persija tidak mudah kehilangan kendali, bahkan ketika tekanan suporter dan lawan meningkat.
