RADARCIREBON.TV – Jalan Jonatan Christie di Malaysia Open 2026 belum berakhir. Namun juga belum aman. Peringkat 4 dunia itu kini berdiri tepat di titik paling sunyi sebuah turnamen besar: semifinal, saat harapan bangsa bertumpu pada satu nama, satu raket, satu tekad.
Sabtu (10/12) pukul 14.00 WIB, Jojo sapaan akrab Jonatan akan menjalani laga hidup mati menghadapi Kunlavut Vitidsarn, peringkat dua dunia asal Thailand. Bukan lawan sembarangan. Bukan pula duel biasa. Ini adalah pertarungan elite, benturan kelas atas, adu mental para penghuni papan atas BWF.
Kunlavut datang ke semifinal dengan modal kepercayaan diri setelah menyingkirkan Lanier, unggulan Prancis peringkat delapan dunia. Sementara Jojo? Ia melangkah ke empat besar usai meredam perlawanan keras Kodai Naraoka, tunggal Jepang peringkat sembilan BWF laga yang menguras tenaga dan emosi.
Baca Juga:Tak Ada Nama Anthony Sinisuka Ginting di Malaysia Open 2026, Publik Terhenyak: Inilah Fakta di BaliknyaLangkah Tunggal Putri Terhenti di Perempat Final Malaysia Open 2026, Putri K Wardani Ditumbangkan Wakil China
Di sisi lain bagan, partai “kelas berat” juga tersaji. Shi Yu Qi, penguasa peringkat satu dunia asal China, akan bentrok dengan Anders Antonsen dari Denmark, sang peringkat tiga. Empat besar. Empat pemain terbaik dunia. Tanpa kejutan. Tanpa kuda hitam. Semua sesuai ranking dan justru itulah tekanannya.
Ironisnya, Jonatan justru berada di posisi paling “buncit”. Peringkat empat. Paling bawah di antara yang terbaik. Tapi justru dari titik itulah sejarah sering ditulis.
Jojo kini menjadi simbol perlawanan terakhir tunggal putra Indonesia. Satu per satu wakil Merah Putih telah tumbang. Tunggal putri gugur. Ganda putri tersingkir. Tak ada lagi pelapis. Tak ada ruang salah. Jika ingin bermimpi tentang podium tertinggi, Jonatan Christie harus terus berdiri.
Indonesia masih menyisakan satu napas lain: sektor ganda putra. Fajar Alfian dan Muhammad Shohibul Fikri juga akan bertarung di semifinal pada pukul 16.30 WIB. Namun di tunggal putra, beban itu sepenuhnya berada di pundak Jojo.
Ini bukan sekadar soal ranking. Bukan sekadar statistik head-to-head. Ini tentang siapa yang lebih siap menderita. Siapa yang berani melawan tekanan. Dan siapa yang sanggup membungkam keraguan termasuk dari mereka yang sejak awal meragukan.
