RADARCIREBON.TV- Di balik aroma wangi adonan yang dipanggang di atas loyang besi dan lelehan mentega yang menggoda, tersimpan sebuah perdebatan klasik yang terus hidup di tengah masyarakat Indonesia.
Perdebatan itu bukan soal rasa, bukan pula soal topping keju atau cokelat, melainkan soal nama. Apakah kudapan manis yang kerap hadir di malam hari itu bernama martabak manis atau terang bulan? Dua nama, satu bentuk, namun memicu diskusi panjang lintas daerah, lintas generasi, bahkan lintas media sosial.
Satu Adonan, Dua Nama, Satu Perdebatan Panjang
Perdebatan mengenai penamaan martabak manis dan terang bulan sejatinya bukan hal baru. Namun, dalam beberapa tahun terakhir, diskusi ini kembali mencuat dan menjadi bahan perbincangan hangat, terutama di ruang digital. Media sosial dipenuhi argumen, meme, hingga pernyataan emosional yang membela istilah masing-masing. Fenomena ini menunjukkan bahwa makanan tidak hanya sekadar urusan rasa, tetapi juga identitas budaya dan kebiasaan lokal.
Baca Juga:Arsenal Terjungkal di Emirates: Saat Momentum Dua Kali Gagal Dimaksimalkan, Peluang Gelar Kian TergadaiDerby Penuh Gengsi, Adu Otak dan Mental: Saat Thom Haye dan Jordi Amat Jadi Pusat Perang Persib vs Persija
Secara umum, kudapan yang dimaksud memiliki ciri khas adonan tebal, bertekstur berongga, dimasak di atas loyang bundar, lalu diberi topping seperti cokelat meses, keju parut, kacang, dan susu kental manis. Di sebagian besar wilayah Indonesia, makanan ini dikenal sebagai martabak manis. Namun di beberapa daerah, khususnya di Pulau Jawa bagian tengah dan timur, istilah terang bulan justru lebih populer dan dianggap sebagai sebutan yang “paling benar”.
Asal-usul istilah martabak sendiri diyakini berasal dari kata Arab mutabbaq, yang berarti “terlipat”. Martabak awalnya dikenal sebagai makanan gurih berisi daging atau telur, yang kemudian mengalami adaptasi di Indonesia hingga melahirkan versi manis. Martabak manis lalu berkembang menjadi makanan rakyat yang mudah ditemukan di berbagai kota, khususnya pada malam hari.
Sementara itu, istilah terang bulan memiliki sejarah yang berbeda. Menurut sejumlah penelusuran budaya kuliner, nama terang bulan konon digunakan untuk menyamarkan martabak manis pada masa tertentu, terutama agar tidak dikaitkan langsung dengan pedagang keturunan Arab atau Tionghoa. Ada pula yang menyebutkan bahwa nama terang bulan dipilih karena tampilannya yang cerah dan menarik ketika dibelah, menyerupai sinar bulan purnama.
