RADARCIREBON.TV – Jeddah bukan lagi sekadar kota netral. Ia berubah menjadi medan perang modern, tempat dua kekaisaran sepak bola Spanyol kembali berhadap-hadapan. Senin dini hari WIB, dunia akan menahan napas. El Clásico kembali meledak.
Real Madrid versus Barcelona. Bukan sekadar final Supercopa de España, melainkan duel harga diri, supremasi, dan ego dua raksasa yang tak pernah benar-benar berdamai.
Real Madrid datang ke final dengan aura pemenang yang berbahaya. Menyingkirkan Atletico Madrid bukan hanya soal skor 2-1, melainkan soal pesan: Los Blancos siap berperang. Federico Valverde membuka luka hanya dalam 77 detik, Rodrygo menusuk jantung rival sekota, dan meski sempat digoyang, Madrid bertahan dengan dingin khas pasukan veteran.
Baca Juga:Masa Depan Vinicius Junior di Real Madrid Belum Jelas, Isu Ketertarikan Chelsea MenguatJadwal dan Prediksi Susunan Pemain Atletico Madrid vs Real Madrid Semifinal Supercopa 2026, Live di Mana?
Mereka mungkin tidak selalu dominan, tapi mereka tahu kapan harus mematikan lawan. Di sisi lain, Barcelona melangkah ke final dengan misi yang tak kalah mendesak: membuktikan bahwa mereka belum runtuh.
Di tengah fase transisi, tekanan finansial, dan bayang-bayang masa lalu yang gemilang, Blaugrana datang ke El Clásico bukan sebagai favorit, melainkan sebagai penantang yang lapar.
Dan sejarah telah mengajarkan satu hal Barcelona paling berbahaya justru saat diragukan. Ini bukan duel biasa. Ini adalah perang dua ideologi. Real Madrid dengan DNA pragmatis dan mental juara yang kejam, mereka tak butuh banyak peluang, hanya momen. Barcelona dengan romantisme penguasaan bola dan keyakinan bahwa sepak bola harus indah, meski sering kali rapuh saat ditekan realitas.
Xabi Alonso membawa pasukan yang matang dan kejam. Valverde, Bellingham, Rodrygo, Vinicius, mereka bukan sekadar pemain, melainkan prajurit dengan kecepatan, tenaga, dan insting membunuh. Madrid mungkin kehilangan beberapa pilar, namun mereka tak pernah kehilangan satu hal: keberanian menghadapi laga besar.
Semakin besar panggung, semakin tenang mereka. Sebaliknya, Barcelona bertumpu pada kolektivitas dan keberanian anak-anak muda yang belum sepenuhnya ditempa perang. Tapi justru di situlah bahaya tersembunyi.
Mereka bermain tanpa beban, tanpa ekspektasi berlebihan. Dalam sejarah El Clásico, kondisi semacam itu kerap melahirkan kejutan yang memalukan bagi Madrid. Pertanyaannya sederhana, tapi jawabannya brutal: siapa yang lebih siap berdarah?
