Federico Barba, Didikan AS Roma, Kini Pilar Pertahanan Persib Asal Italia, Siap Jagal Striker Persija

Federico Barba
Federico Barba Foto : Fedebarba
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Kedatangan Federico Barba ke Bandung pada Agustus 2025 menjadi salah satu transfer paling mencuri perhatian di sepak bola Indonesia. Persib Bandung bukan sekadar mendatangkan pemain asing, tetapi menghadirkan sosok bek tengah dengan jam terbang Eropa yang panjang dan berlapis. Barba datang membawa cerita, pengalaman, serta mentalitas kompetisi kelas atas yang jarang dimiliki pemain di Liga 1.

Nama Federico Barba bukanlah figur sembarangan. Lahir di Roma pada 1 September 1993, bek bertinggi 187 sentimeter itu tumbuh dan ditempa di lingkungan sepak bola yang keras dan kompetitif. Akademi AS Roma menjadi tempat awal ia menyerap nilai-nilai sepak bola Italia yang menekankan disiplin, kecerdasan bertahan, dan kemampuan membaca permainan. Dari sana, perjalanan profesionalnya membentang lintas negara dan liga elite Eropa.

Debut profesional Barba dimulai bersama Grosseto di Serie B. Meski bukan klub besar, periode itu menjadi fondasi penting dalam kariernya. Ia belajar bertahan di bawah tekanan, menghadapi striker berpengalaman, serta mengasah ketenangan sebagai bek muda. Perkembangannya menarik perhatian Empoli, klub yang kemudian menjadi salah satu titik penting dalam kisah kariernya.

Baca Juga:Hodak Tegaskan Kontrol Emosi Kunci Kemenangan Persib: “Tetap Tenang Akan Bawa Hasil Positif”Federico Barba Kembali Berlatih Bersama Persib Jelang Duel Kontra Persija, Bojan Hodak Tanggapi Isu Transfer

Bersama Empoli, Barba merasakan kerasnya persaingan promosi dan atmosfer Serie A. Ia menjadi bagian dari tim yang berhasil naik kasta, memperlihatkan kapasitasnya sebagai bek tengah yang konsisten dan bisa diandalkan. Dari Italia, petualangannya berlanjut ke Jerman bersama VfB Stuttgart. Bundesliga memberinya tantangan berbeda: permainan cepat, duel fisik intens, dan transisi agresif. Barba mampu beradaptasi, membuktikan bahwa dirinya bukan bek yang hanya cocok di satu sistem.

Pengalaman lintas budaya sepak bola terus bertambah ketika ia merumput di La Liga bersama Sporting Gijón. Di Spanyol, Barba dituntut lebih cerdas dalam membaca ruang dan mengantisipasi pergerakan lawan. Ia bukan hanya bertahan dengan tenaga, tetapi juga dengan posisi dan timing yang presisi. Setelah itu, ia kembali ke Italia, memperkuat sejumlah klub seperti Chievo Verona, Benevento, Pisa, Como, hingga akhirnya hijrah ke Swiss bersama FC Sion.

Menariknya, Barba dikenal sebagai “spesialis promosi”. Ia tercatat membantu beberapa klub menembus Serie A, termasuk Empoli, Benevento, dan Como. Catatan tersebut menunjukkan satu hal penting: ia terbiasa bermain di situasi penuh tekanan, di mana satu kesalahan kecil bisa menentukan nasib satu musim. Mentalitas seperti inilah yang kini dibawa ke Persib Bandung.

0 Komentar