RADARCIREBON.TV – Setelah melonjak sekitar 65% sepanjang 2025, harga emas diproyeksikan masih melanjutkan tren naik pada 2026. Sejumlah analis global memperkirakan harga emas dunia berpeluang menembus US$4.500–5.000 per ons, bahkan dalam jangka panjang bisa mengarah ke US$6.000 per ons.
Harga emas Antam pekan ini mencatat kenaikan beruntun dari Senin hingga Rabu, bergerak dari Rp2.515.000 ke Rp2.584.000. Koreksi terjadi pada Kamis ke Rp2.570.000, lalu harga kembali naik pada Jumat. Pada Sabtu, emas Antam melonjak ke level Rp2.602.000, dan menutup pekan di level tertinggi, sekaligus mengonfirmasi tren bullish jangka pendek.
Sementara, harga emas Treasury dibuka pada Rp2.506.321 di awal pekan dan menguat hingga Rabu ke Rp2.531.680. Tekanan jual muncul pada Kamis saat harga turun ke Rp2.522.188. Namun, penguatan kembali terjadi Jumat dan berlanjut pada Sabtu ke Rp2.555.552, mencerminkan kecenderungan naik stabil dengan fluktuasi relatif terukur sepanjang pekan perdagangan domestik.
Baca Juga:Tak Kapok! Beckham Putra Blak-blakan Alasan Selebrasi 'Kedinginan' Meski Pernah Kena Denda Rp 75 JutaBeli Emas Antam Apakah Menguntungkan? Yuk Intip 5 Keuntungan Investasi Emas
Secara keseluruhan, tren kenaikan harga emas Antam dan Treasury mencerminkan sentimen pasar yang positif dan minat lindung nilai yang terjaga. Investor domestik cenderung akumulatif meski terjadi koreksi harian. Kondisi ini menunjukkan emas tetap relevan sebagai instrumen pelindung nilai bagi investor jangka menengah di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Tren Harga Emas Hari Ini dan Prediksi Mendatang
Pergerakan emas domestik sepanjang pekan ini mencerminkan tren penguatan solid, sejalan dengan lonjakan global ke rekor baru. Arus dana safe haven tetap deras, menopang harga emas lokal. Kondisi ini memberi sinyal tren mendatang masih konstruktif dan positif, terutama jika ketidakpastian global dan minat lindung nilai berlanjut dalam jangka menengah depan.
Ekspektasi kebijakan The Fed terus membentuk arah emas pekanan. Peluang penurunan suku bunga yang fluktuatif, data tenaga kerja melemah, serta sentimen geopolitik meningkatkan ketidakpastian. Lingkungan ini cenderung mendukung emas, karena imbal hasil riil tertekan dan permintaan aset aman tetap terjaga pada horizon waktu dekat global.
Kombinasi faktor fundamental dan teknikal semakin memperkuat prospek emas. Pembelian bank sentral, konflik geopolitik, dan kontraksi manufaktur AS menopang fundamental. Secara teknikal, RSI di atas 50 di pekan ini menjaga bias bullish. Sementara, Goldman Sachs, JPMorgan, ANZ, dan Morgan Stanley memproyeksikan harga tinggi hingga 2026, bahkan menuju rekor baru global.
