RADARCIREBON.TV – Di tengah arus sepak bola modern yang kian cepat melupakan romantisme, nama Andik Vermansah tetap berdiri sebagai simbol kesetiaan, keberanian, dan cinta yang tak pernah benar-benar usai. Cinta itu bernama Persebaya Surabaya. Klub yang membesarkan namanya, mengasah mentalnya, dan melambungkan bocah Jember itu ke langit tertinggi sepak bola Indonesia.
Andik bukan produk instan. Ia tumbuh dari rahim sepak bola Persebaya sejak usia belia. Tiga tahun ditempa di tim junior, dari 2005 hingga 2008, sebelum akhirnya menembus tim senior. Di situlah publik Indonesia mengenal sosok sayap mungil dengan kecepatan kilat, dribel berani, dan mental “wani ngeyel” yang menjadi ciri khasnya. Persebaya bukan sekadar klub bagi Andik, melainkan rumah pertama yang membentuk karakternya sebagai pesepak bola dan manusia.
Dari Surabaya, jalan karier Andik mengalir jauh. Ia menyeberang ke Malaysia, merasakan kerasnya Liga Super bersama Selangor dan Kedah. Pengalaman di negeri jiran memperkaya wawasannya, menempa kedewasaan bermain, dan membuktikan bahwa pemain lokal Indonesia mampu bersaing di luar negeri. Namun, seperti cinta lama yang tak pernah padam, tanah air tetap memanggilnya pulang.
Baca Juga:Darurat Lini Depan! Persebaya Kehilangan Bomber Lokal, Bernardo Tavares Terjebak Ketergantungan Striker AsingPersebaya Hentikan Tren Buruk, Tumbangkan Malut United di Pekan Ke-17 BRI Super League 2025/26
Sejak 2019, Andik kembali merajut kisah di Indonesia. Madura United, Bhayangkara FC, hingga akhirnya berlabuh di Persiraja Banda Aceh sejak 2023. Di Serambi Mekkah, Andik tak sekadar menjadi pemain senior, tetapi tumpuan dan panutan. Usia boleh bertambah, kecepatan mungkin tak lagi seperti dulu, tetapi nyali dan semangat bertarungnya tetap utuh. “Wani-nya enggak mungkin hilang,” ucap Andik, kalimat sederhana yang merangkum perjalanan panjangnya.
Di level tim nasional, Andik juga punya catatan yang tak bisa dipandang sebelah mata. Dua medali perak SEA Games 2011 dan 2013 bersama Timnas U-23 menjadi bukti konsistensinya sejak muda. Bersama timnas senior, ia turut mengantarkan Garuda menjadi runner-up Piala AFF 2016, sebuah pencapaian yang masih dikenang hingga kini.
Lalu, bagaimana jika pintu pulang ke Persebaya kembali terbuka? Andik menjawab dengan jujur, penuh kerendahan hati. Ia ingin, tapi juga sadar diri. Bukan karena takut, melainkan karena ia memahami waktu. Ia tahu performa masa muda tak mungkin sepenuhnya terulang. Namun satu hal yang pasti, semangat juang itu tak pernah pudar.
