Alih-alih mendatangkan pemain nomor enam, Perez justru memboyong Franco Mastantuono dari River Plate dengan banderol serupa. Padahal stok pemain depan dan gelandang serang Madrid sudah melimpah. Mastantuono pun kesulitan menembus tim utama, hanya mencatatkan 17 penampilan dengan satu gol dan satu assist sepanjang musim.
Perselisihan semakin meruncing ketika Alonso mengajukan perpanjangan kontrak Luka Modric. Bagi Alonso, Modric bukan sekadar pemain, melainkan figur panutan bagi generasi muda di masa transisi. Selain itu, gaya bermain Modric dianggap sangat cocok dengan filosofi permainan yang ingin diterapkan Alonso. Namun Perez menolak, menilai era Modric sudah usai.
Meski Madrid masih memiliki Aurelien Tchouameni dan Eduardo Camavinga, keduanya dinilai bukan gelandang bertahan alami. Ketidakseimbangan ini terus menghantui permainan Madrid sepanjang paruh pertama musim.
Baca Juga:Bencana! Dalam Tiga Hari Real Madrid Kehilangan Dua Gelar, Kalah Dari Albacete Tambah Luka Semakin DalamTerungkap! Faktor di Balik Keputusan Xabi Alonso Tinggalkan Real Madrid Setelah 7 Bulan
Pada akhirnya, perselisihan visi antara pelatih dan presiden, ditambah performa yang tak meyakinkan serta hubungan yang retak dengan pemain, membuat nasib Xabi Alonso di Real Madrid berakhir lebih cepat dari rencana. Pemecatan itu pun menjadi cermin betapa kerasnya tuntutan dan politik di balik megahnya kursi pelatih Los Blancos.
