Keputusan itu menyulut amarah. Bangku cadangan Senegal meledak. Protes mengalir deras.
Belum reda, empat menit berselang, Maroko justru dihadiahi penalti. Brahim Diaz terjatuh di kotak penalti dalam situasi sepak pojok. Wasit menunjuk titik putih. VAR mengesahkan keputusan itu.
Bagi Senegal, ini puncak ketidakadilan. Para pemain berkerumun. Kapten tim meluapkan kemarahan. Pelatih Pape Thiaw mengambil keputusan ekstrem: pemain ditarik keluar lapangan. Final Piala Afrika terhenti. Stadion Rabat mendidih.
Selama hampir 20 menit, pertandingan berada di ambang kehancuran.
Baca Juga:Hasil Pertandingan Final Piala Afrika AFCON 2025: Senegal Juara Usai Lawan Maroko dengan Kemenangan 1-0Hasil Final Piala Afrika 2025: Senegal Juara Setelah Taklukkan Maroko Lewat Drama Perpanjangan Waktu
Setelah negosiasi panjang, Senegal kembali ke lapangan. Penalti tetap harus dijalankan. Brahim Diaz maju sebagai algojo. Ia berjalan pelan. Tatapannya penuh keyakinan. Ia memilih Panenka, pilihan paling berani di momen paling genting.
Namun keberanian itu berubah menjadi bumerang. Bola berhasil dipeluk sang kiper. Gagal. Senegal bersorak. Maroko terdiam. Stadion yang semula bergemuruh berubah menjadi sunyi yang menyakitkan.
Itu bukan sekadar penalti gagal. Itu titik balik psikologis. Perpanjangan Waktu: Senegal Menghukum, Maroko Runtuh
Masuk extra time, Maroko tampak kehilangan arah. Mental mereka runtuh. Senegal justru tampil seperti tim yang dibakar kemarahan terkontrol.
Gol penentu datang cepat. Serangan balik kilat memotong pertahanan Maroko yang terbuka. Bola mengalir dari kanan ke kiri, Idrissa Gueye mengirim umpan matang kepada Pape Gueye. Dengan satu sentuhan dan tembakan kaki kiri, bola menghujam pojok atas gawang.
Gol itu seperti palu godam. Maroko mencoba bangkit, tapi energi dan kepercayaan diri telah habis. Hingga peluit akhir dibunyikan, skor 1-0 bertahan.
Senegal mengangkat trofi dalam suasana campur aduk. Sorak kemenangan bercampur siulan kecewa publik tuan rumah. Ini bukan final yang indah, tapi ini final yang jujur tentang wajah sepak bola Afrika: emosional, penuh drama, dan tak pernah bisa ditebak.
Baca Juga:Jonathan Christie Hadapi Loh Kean Yew di Semifinal India Open 2026Bikin Kejutan!! Jon Toral Jebolan La Masia, Pemain Arsenal Kini Diboyong ke Persik Kediri
Maroko gagal di rumah sendiri. Senegal juara bukan karena segalanya berjalan mulus, tetapi karena mereka bertahan saat situasi hampir lepas kendali.
Dan di Rabat, satu Panenka yang gagal akan dikenang jauh lebih lama daripada semua sorakan pendukung tuan rumah.
