RADARCIREBON.TV – Manajer PSIM Yogyakarta, Razzi Taruna, mengungkapkan karakter dan gaya kepemimpinan pelatih kepala, Jean-Paul van Gastel. Menurut Razzi juru taktik asal Belanda itu mempunyai pendekatan yang tegas dan terbuka.
Razzi mengatakan, latar belakang Jeam-Paul van Gastel sebagai pelatih Eropa membuatnya terbiasa berkomunikasi tanpa basa-basi. Hal inilah yang menjadi nilai plus bagi tim dengan julukan Laskar Mataram tersebut.
“Dia orang Belanda jadi orangnya straightforward banget. Marah, marah. Jadi itu yang saya senang juga. Orangnya fair, kalau apresiasi ya apresiasi. Kalau kritik, dia kritik. Tapi selalu konteksnya membangun dan profesional,” kata Razzi.
Baca Juga:Menang Telak Atas Korea Selatan, Kapten Timnas Futsal Indonesia Enggan Berpuas DiriBelajar dari Pengalaman, PSIM Yogyakarta Bergerak Cepat Siapkan Skuad untuk BRI Super League
“Misalnya ada yang dia kurang suka dari saya, dia pasti bilang. Orangnya ke pemain saya rasa cukup fair. Dia bisa menjadi peran bapak dan juga serius at the same time. Ada juga joke internal yang dia suka ke pemain,” lanjut dia.
Juru taktik berusia 53 tahun tersebut dinilai mampu membangun kedekatan emosional dengan para pemain. Bahkan Van Gastel bisa bersikap sebagai figur ayah, tetapi tetap menjaga profesionalisme sebagai pelatih kepala.
“Salah satu kenapa saya tertarik sama dia karena dia dari dulu banyak juga peran jadi asisten pelatih. Kalau asisten dulu di Eropa mungkin yang mengerjakan dirty job kan malah dia. Jadi ketika dia jadi pelatih kepala, dia bisa menjalankan dua-duanya sekaligus,” jelasnya.
“Dia bisa menjadi pelatih kepala yang bisa punya leader command, pegang tongkat tapi dia juga bisa menjalankan pekerjaan-pekerjaan kecil yang bisa dibilang enggak penting tapi dianggap penting. Jadi hal-hal kecil pun diperhatikan,” terangnya.
Lanjut dia, Razzi Taruna menegaskan tetap ada kompromi supaya standar Eropa yang dibawa Jean-Paul van Gastel dapat selaras dengan situasi sepak bola nasional.
“Tapi jangan berarti lu stay di sini (tetap standar Eropa tinggi) dong’, enggak bisa. Kita bukan Feyenoord atau Besiktas. Tapi mungkin di sini (posisi tengah). Jadi tetap ada sedikit kompromi untuk ‘oh ini Indonesia, tapi standar lu tetap lu jaga.’ Karena kita datangkan dia dari Belanda untuk itu,” tutur Razzi.
