RADARCIREBON.TV- Investasi emas kerap dianggap sebagai pilihan aman, terutama di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Logam mulia ini dikenal mampu menjaga nilai aset dalam jangka panjang dan sering dijadikan pelindung nilai terhadap inflasi.
Namun, di balik citra stabil tersebut, risiko investasi emas tetap ada dan perlu dipahami sebelum memutuskan menaruh dana.
Baca Juga:Daftar Tim Lolos Babak Play-off Liga Champions 2025/26, Ada Real Madrid, PSG, dan Inter MilanPersib Waspadai Kebangkitan Persis Solo Jelang Laga Tandang Pekan ke-19 Super League 2025/26
Memahami risiko sejak awal dapat membantu investor mengambil keputusan yang lebih rasional dan menghindari kesalahan strategi dalam berinvestasi.
Fluktuasi Harga Emas
Meski cenderung naik dalam jangka panjang, harga emas tetap mengalami fluktuasi dalam jangka pendek.
Pergerakan harga emas sangat dipengaruhi oleh kondisi ekonomi global, kebijakan suku bunga, nilai tukar dolar AS, serta sentimen pasar.
Menurut World Gold Council, harga emas bisa mengalami koreksi signifikan saat pasar keuangan global stabil atau ketika suku bunga naik.
Investor yang membeli emas di harga puncak berisiko mengalami kerugian jika terpaksa menjual dalam waktu dekat.
Tidak Memberikan Imbal Hasil Berkala
Berbeda dengan saham yang bisa memberikan dividen atau obligasi yang menghasilkan kupon, emas tidak memberikan pendapatan pasif. Keuntungan investasi emas hanya berasal dari selisih harga beli dan harga jual.
Laporan Investopedia menyebutkan bahwa dalam kondisi ekonomi normal, aset produktif seperti saham berpotensi memberikan imbal hasil lebih tinggi dibanding emas.
Baca Juga:5 Program Mudik Gratis 2026 Sudah Dibuka, Total Kuota Ribuan, Tujuan Jawa hingga SumatraSudah Buka! Mudik Gratis Indomaret 2026, Ada Tiket Bus & Kereta, Ini Ketentuan & Cara Daftarnya
Hal ini menjadikan emas kurang optimal jika tujuan investasi adalah pertumbuhan aset secara agresif.
Risiko Likuiditas dan Biaya Tambahan
Meski emas tergolong likuid, tidak semua jenis emas mudah dijual dengan cepat tanpa potongan harga.
Emas fisik seperti perhiasan atau emas batangan tertentu bisa dikenakan biaya cetak, pajak, atau selisih harga beli dan jual (spread) yang cukup besar.
Menurut Otoritas Jasa Keuangan (OJK), investor juga perlu memperhitungkan biaya penyimpanan, asuransi, dan keamanan jika menyimpan emas fisik dalam jumlah besar.
Risiko Penyimpanan dan Keamanan
Investasi emas fisik memiliki risiko kehilangan, pencurian, atau kerusakan. Menyimpan emas di rumah membutuhkan sistem keamanan yang memadai, sementara menyimpan di safe deposit box bank memerlukan biaya tambahan.
