Imbas cuaca ekstrem yang melanda wilayah Kota Cirebon dan daerah lainnya, ratusan perahu nelayan terpaksa baris bersandar di bibir perairan Kota Cirebon selama lebih dari satu bulan. Tak adanya penghasilan yang mampu menutupi kebutuhan, ditambah belum terealisasinya Kampung Nelayan Merah Putih, sehingga mereka terpaksa menjadikan utang jadi andalan untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari.
Ratusan perahu nelayan di wilayah Samadikun, Kelurahan Kesenden, Kota Cirebon, baris menambat dan bersandar di bibir perairan laut Cirebon. Ratusan nelayan terpaksa tidak melaut lebih dari satu bulan karena faktor cuaca ekstrem yang terus melanda Indonesia. Terlebih, curah hujan tinggi dan angin kencang musim ini diakui nelayan sebagai cuaca ekstrem paling parah dibanding tahun-tahun sebelumnya.
Dengan kondisi tersebut, tak ada pilihan lain selain utang yang menjadi andalan para nelayan untuk sekadar menyambung hidup. Hal itu terpaksa dilakukan lantaran tidak ada lagi mata pencaharian yang dapat dijadikan sebagai tambal sulam sumber penghasilan. Sementara setiap hari dapur harus tetap ngebul; mereka hanya bisa mencari ikan-ikan kecil di pesisir pantai untuk sebatas membuat dapur tetap ngebul, sambil merawat perahunya agar tidak rusak karena lama tak digunakan.
Baca Juga:Aksi Mimbar Bebas Selamatkan Pendapatan Asli Desa Gombang – VideoPenonaktifan BPJS PBI Dampak Efesiensi Anggaran Pusat – Video
Sementara pemerintah kelurahan berharap Kampung Nelayan Merah Putih yang sudah lama diwacanakan dapat segera diluncurkan oleh pemerintah, sekaligus dapat bersinergi dengan Koperasi Merah Putih. Mengingat, mata pencaharian warganya didominasi oleh nelayan yang melaut di perairan Cirebon.
Di saat nelayan harus menepi, permintaan ikan di pasaran justru melonjak.