RADARCIREBON.TV – Pasar emas global tengah memasuki fase yang semakin sulit diabaikan. Tahun 2026 diperkirakan menjadi momentum penting bagi logam mulia, seiring munculnya proyeksi berbasis kecerdasan buatan (AI) yang menempatkan emas pada lintasan harga agresif, jauh melampaui proyeksi konservatif yang selama ini mendominasi Wall Street.
Dari artikel di Yahoo Finance, salah satu model proyeksi jangka panjang berbasis AI memperkirakan harga emas berpotensi meroket menembus level US$10.000 per ons paling cepat pada April 2026, dengan estimasi puncak harga mencapai US$10.527 pada bulan tersebut.
Proyeksi itu tidak berhenti di sana. Dalam skenario lanjutan, model yang sama menunjukkan potensi kenaikan signifikan hingga paruh kedua tahun, dengan estimasi harga mendekati US$19.733 per ons pada Desember 2026.
Baca Juga:Kompak!! Harga Emas di Pegadaian Hari Ini 1 Februari 2026: Galeri24 dan UBS Turun Drastis!Prediksi Harga Emas Antam 2 Februari 2026: Berpotensi Naik Setelah Penurunan Signifikan
Angka tersebut memang jauh di atas konsensus pasar konvensional. Namun, dinamika fundamental yang mengiringinya membuat proyeksi tersebut tidak sepenuhnya berdiri di atas asumsi spekulatif.
Reli emas yang membawa kenaikan harga lebih dari 100 persen sepanjang tahun lalu ditopang oleh permintaan riil yang kuat. Permintaan emas fisik terus meningkat di seluruh kanal ritel dan institusional, mencerminkan pergeseran preferensi investor dari instrumen berbasis kertas menuju kepemilikan aset nyata.
Perusahaan seperti Preserve Gold, yang berfokus pada kepemilikan emas fisik untuk investor jangka panjang dan rekening pensiun, mencatat peningkatan minat signifikan. Investor dinilai semakin memilih eksposur langsung terhadap emas fisik ketimbang memperdagangkan kontrak derivatif, seiring meningkatnya kesadaran risiko di pasar keuangan global.
Di tengah ketegangan geopolitik global, pelemahan dolar AS, serta ekspektasi penurunan suku bunga, emas kembali mengukuhkan posisinya sebagai aset strategis.
“Kami terus memperkirakan harga emas akan menguat pada tahun 2026, karena faktor-faktor pendorong kenaikannya yang kuat tetap utuh,” ujar Ian Samson, Manajer Portofolio Fidelity International, kepada Bloomberg.
Pandangan tersebut diperkuat oleh analisis dari Shaniel Ramjee dari Pictet Asset Management, yang menyoroti peran bank sentral sebagai sumber permintaan yang stabil dan tidak bersifat siklikal.
“Dalam lingkungan di mana kita melihat sebagian besar pembelian berasal dari bank sentral besar, hal itu membuat kita lebih nyaman memiliki bobot yang lebih tinggi dalam portofolio,” kata Ramjee kepada Bloomberg. “Kami pikir harga emas akan naik tahun ini, tetapi dengan kecepatan yang jauh lebih hati-hati dan stabil.”
