RADARCIREBON.TV- Harga emas kembali menjadi sorotan menjelang akhir Februari 2026.
Logam mulia yang selama ini dikenal sebagai aset aman (safe haven) itu berada di fase krusial, di tengah ketidakpastian ekonomi global, dinamika kebijakan bank sentral, serta pergerakan nilai tukar mata uang utama dunia. Investor, pelaku pasar, hingga masyarakat umum kini bertanya-tanya: apakah harga emas akan melanjutkan tren penguatan, atau justru memasuki fase koreksi?
Emas Masih Jadi Aset Favorit di Tengah Ketidakpastian Global
Secara historis, emas selalu menjadi pilihan utama saat kondisi global tidak menentu. Memasuki 2026, faktor ketidakpastian masih cukup kuat. Beberapa negara besar masih bergulat dengan perlambatan ekonomi, sementara tensi geopolitik di sejumlah kawasan belum sepenuhnya mereda. Situasi ini membuat permintaan terhadap emas tetap terjaga, baik dari investor institusi maupun ritel.
Di sisi lain, perubahan arah kebijakan moneter bank sentral dunia menjadi faktor krusial. Setelah periode panjang pengetatan suku bunga di tahun-tahun sebelumnya, pasar kini cenderung sensitif terhadap sinyal pelonggaran atau penyesuaian kebijakan. Setiap pernyataan dari bank sentral utama berpotensi memicu fluktuasi harga emas dalam jangka pendek.
Peran Suku Bunga dan Dolar AS terhadap Harga Emas
Baca Juga:Toyota Agya GR Sport 2026 Siap Menggoda Pasar City Car Sporty: Desain Lebih Agresif & Fitur Makin LengkapJangan Mudah Tergiur Saldo DANA Gratis! Cara Cerdas Membedakan Aplikasi Penghasil Uang Asli dan yang Scam
Salah satu faktor paling dominan dalam proyeksi harga emas akhir Februari 2026 adalah kebijakan suku bunga global, khususnya yang berkaitan dengan dolar AS. Secara teori, emas cenderung melemah saat suku bunga tinggi karena investor lebih tertarik pada instrumen berbunga. Sebaliknya, ketika ada indikasi suku bunga mulai stabil atau turun, emas kembali dilirik sebagai aset lindung nilai.
Nilai tukar dolar AS juga memainkan peran penting. Jika dolar mengalami pelemahan, harga emas biasanya mendapat dorongan naik karena menjadi lebih murah bagi pemegang mata uang lain. Sebaliknya, penguatan dolar berpotensi menekan pergerakan emas. Menjelang akhir Februari 2026, pelaku pasar masih mencermati arah dolar dengan sangat hati-hati, karena volatilitasnya relatif tinggi.
•Permintaan Fisik dan Investasi Jadi Penopang
Selain faktor makroekonomi, permintaan fisik emas juga turut memengaruhi harga. Negara-negara dengan budaya konsumsi emas yang kuat, seperti India dan Tiongkok, sering menjadi penentu arah permintaan global. Momentum tertentu, termasuk musim pernikahan atau kebutuhan industri, bisa memberi tambahan sentimen positif terhadap harga emas.
