Selain tradisi tersebut makanan yang dihidangkan selama Imlek ternyata memiliki arti filosofis masing-masing. Misalnya hidangan Yu Sheng dianggap melambangkan kelimpahan dan keberuntungan sepanjang tahun. Hidangan lain seperti kue beras ketan atau nian gao identik dengan pertumbuhan dan kemajuan sedangkan mie panjang melambangkan umur panjang dan pangsit melambangkan kekayaan.
Menariknya imlek juga memicu fenomena sosial yaitu gelombang migrasi manusia terbesar di dunia yang disebut chunyun. Tradisi pulang kampung untuk berkumpul bersama keluarga membawa jutaan orang berpindah tempat dalam periode waktu yang relatif singkat setiap tahunnya. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya nilai kekeluargaan dalam budaya Imlek.
Dekorasi khas seperti fai chun yang merupakan tulisan kaligrafi berwarna merah juga punya makna tersendiri. Hiasan ini dipasang di rumah sebagai harapan agar keberuntungan, keselamatan, dan keseluruhan hal baik datang sepanjang tahun baru. Selain itu kata Fu sering ditempel terbalik di rumah dengan arti keberuntungan datang ke dalam rumah.
Baca Juga:Prediksi Starting XI Persib Bandung vs Ratchaburi di ACL Two, Persib Dipastikan Tanpa Tiga Pemain KunciRespons PBSI Terkait Indonesia Open 2027 Bakal Digelar 11 Hari, Ini Kata Mereka
Festival Lentera yang menjadi puncak rangkaian juga merupakan momen penting dalam tradisi Imlek. Pada hari ke-15 ini lentera warna-warni dipasang atau dibawa dalam pawai malam hari sebagai simbol pencapaian cahaya dan harapan di tahun yang baru.
Terakhir perayaan Imlek bukan hanya populer di Tiongkok tetapi juga dikenal luas oleh komunitas Tionghoa di berbagai negara. Di tempat-tempat seperti Indonesia tradisi Imlek sering disesuaikan dengan budaya lokal sehingga perayaannya semakin beragam dan unik. Dari kampung halaman sampai kota besar semua ikut merayakan dengan cara masing-masing namun inti dari Imlek tetap sama yaitu merayakan awal yang baru bersama orang-orang terdekat.
