1. Pembuatan Naskah Video dan Voice Over
Kreator konten video memanfaatkan prompt yang mencantumkan gaya narasi tertentu, durasi video, serta target platform seperti TikTok atau YouTube Shorts. Dengan begitu, naskah yang dihasilkan lebih sesuai dengan karakter audiens.
2. Riset Cepat dan Ringkasan Informasi
Pelajar dan mahasiswa menggunakan prompt untuk merangkum materi pembelajaran, menjelaskan istilah, hingga menyusun kerangka presentasi.
3. Pembuatan Konten SEO
Praktisi digital marketing kini merancang prompt dengan menyertakan kata kunci, struktur heading, serta gaya bahasa yang ramah mesin pencari agar artikel lebih mudah ditemukan di internet.
4. Ide Konten Kreatif
Baca Juga:Perbedaan Mendasar VinFast VF MPV dan Limo Green yang Wajib Diketahui PublikStok BBM Shell Jadi Sorotan Publik: Kondisi Ketersediaan Bahan Bakar di SPBU Shell dan Dampak bagi Konsumen
Banyak kreator memanfaatkan prompt untuk mencari ide konten harian, mulai dari topik edukasi, hiburan, hingga inspirasi gaya hidup.
•Pentingnya Akurasi dan Etika
Meski penggunaan prompt semakin populer, para pakar teknologi digital mengingatkan pentingnya menjaga akurasi dan etika dalam penggunaan AI. Hasil yang dihasilkan sistem tetap perlu diverifikasi, terutama untuk konten berita atau informasi publik. Pengguna disarankan untuk memastikan data yang digunakan berasal dari sumber terpercaya dan tidak menyesatkan.
Selain itu, prompt yang baik juga harus menghindari permintaan yang melanggar hukum, menyebarkan hoaks, atau merugikan pihak lain. Kesadaran ini menjadi bagian penting dalam literasi digital masyarakat.
•Komunitas dan Berbagi Prompt
Fenomena berbagi prompt terbaru juga marak di berbagai platform media sosial dan forum diskusi. Banyak pengguna membagikan template prompt yang dinilai efektif, lengkap dengan contoh hasilnya. Hal ini menciptakan ekosistem kolaboratif di mana pengguna saling belajar dan meningkatkan keterampilan dalam memanfaatkan AI.
Di Indonesia, minat terhadap prompt kreatif meningkat seiring pertumbuhan konten digital lokal. Kreator mulai menyesuaikan prompt dengan konteks budaya, bahasa, dan tren nasional. Misalnya, penggunaan gaya bahasa santai khas media sosial Indonesia atau penyesuaian topik dengan momen tertentu seperti Ramadan, tahun ajaran baru, hingga promo akhir pekan.
•Tantangan dan Prospek ke Depan
Meski semakin banyak digunakan, pemanfaatan prompt tetap memiliki tantangan. Salah satunya adalah ketergantungan berlebihan pada AI tanpa proses penyuntingan manusia. Padahal, sentuhan editorial tetap dibutuhkan agar konten terasa alami, relevan, dan sesuai dengan nilai yang ingin disampaikan.
