Pedagang 10 Tahun Bertahan Di Tengah Sepinya Pasar Batik Trusmi – Video

Pedagang 10 Tahun Bertahan Di Tengah Sepinya Pasar Batik Trusmi
0 Komentar

Pasar Batik Trusmi yang berdiri sejak 14 April 2015 sempat ramai, terutama saat liburan dan momen Lebaran. Namun pasca pandemi Covid-19, kondisi pasar sepi dan hingga saat ini belum pulih sepenuhnya.

Sepinya Pasar Batik Trusmi turut dirasakan pedagang lama, Nuril, yang telah hampir 10 tahun berjualan di lokasi tersebut. Ia menyebut penurunan omzet terjadi sejak pandemi Covid-19 dan belum sepenuhnya pulih hingga kini.

Kemudian, ia menilai pembukaan Tol Plumbon turut mempengaruhi jumlah kunjungan, karena kendaraan dari luar kota tidak lagi melintas di kawasan Trusmi. Selain itu, maraknya penjualan daring membuat transaksi di pasar semakin menurun.

Baca Juga:Pasar Darurat Lemahabang Kulon Siap Ditempati Pedagang – VideoPolisi Amankan Remaja Yang Diduga Hendak Melakukan Tawuran – Video

Meski demikian, Nuril ikut beradaptasi dengan menjual produk secara daring, mulai dari kain batik hingga pakaian jadi. Ia bekerja sama dengan pengrajin dari Trusmi, Gamel, dan Kalitengah untuk menjaga ketersediaan produk.

Terkait biaya operasional, pedagang membayar retribusi harian empat ribu lima ratus hingga enam ribu lima ratus rupiah, ditambah biaya kebersihan dua ribu rupiah per hari. Menurutnya, jika tidak ada pemasukan, biaya tersebut menjadi beban, terlebih bagi pedagang yang memiliki karyawan.

Meski pasang surut penjualan terus terjadi, Nuril dan sejumlah pedagang lainnya memilih bertahan karena batik merupakan mata pencaharian utama sekaligus bagian dari pelestarian budaya. Ia berharap ada dukungan promosi dari pemerintah agar Pasar Batik Trusmi kembali ramai seperti sebelum pandemi.

0 Komentar