RADARCIREBON.TV- Pertanyaan mengenai kapan 1 Ramadhan selalu menjadi topik yang ramai diperbincangkan setiap menjelang bulan suci.
Umat Islam di Indonesia umumnya menantikan pengumuman resmi pemerintah terkait awal Ramadhan melalui sidang isbat yang digelar Kementerian Agama (Kemenag). Penetapan tersebut dilakukan dengan mempertimbangkan hasil pemantauan hilal serta perhitungan astronomi (hisab), sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
Perkiraan 1 Ramadhan 1447 H di Indonesia dan Faktor yang Penentu
Untuk tahun 1447 Hijriah, yang jatuh pada 2026 Masehi, awal Ramadhan diperkirakan berlangsung pada akhir Februari atau awal Maret 2026. Secara perhitungan kalender Hijriah global, 1 Ramadhan 1447 H diproyeksikan jatuh sekitar tanggal 18 atau 19 Februari 2026. Namun demikian, tanggal pasti di Indonesia tetap menunggu hasil sidang isbat yang akan digelar pada 29 Syaban 1447 H.
Baca Juga:iPhone 17e Siap Menggebrak Pasar Global: Smartphone “Entry-Level” dengan Performa Flagship & Fitur Premium!Resmi Mengguncang 2026! Bocoran Spesifikasi & Prediksi Harga iQOO 15R di Indonesia
Perlu dipahami bahwa penetapan awal Ramadhan di Indonesia mengacu pada metode rukyatul hilal (pengamatan bulan sabit pertama) dan hisab (perhitungan astronomi). Pemerintah melalui Kementerian Agama akan menggelar sidang isbat yang dihadiri perwakilan organisasi masyarakat Islam, ahli falak, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), serta instansi terkait lainnya. Sidang ini bertujuan untuk memadukan hasil pengamatan langsung hilal dengan data astronomi.
Dalam praktiknya, tim rukyat ditempatkan di berbagai titik pemantauan di seluruh Indonesia, mulai dari wilayah barat hingga timur. Jika hilal terlihat dan memenuhi kriteria yang disepakati, maka 1 Ramadhan ditetapkan keesokan harinya. Jika tidak terlihat atau belum memenuhi kriteria tinggi dan elongasi tertentu, maka bulan Syaban digenapkan menjadi 30 hari.
Di Indonesia, terdapat kriteria yang dikenal sebagai “Imkanur Rukyat” atau kemungkinan terlihatnya hilal. Kriteria ini biasanya mempertimbangkan tinggi hilal minimal dan jarak sudut bulan terhadap matahari (elongasi). Pemerintah dan sejumlah ormas Islam mengikuti kesepakatan kriteria yang ditetapkan oleh Menteri Agama negara-negara anggota MABIMS (Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura). Kriteria ini bertujuan menyatukan metode penentuan awal bulan Hijriah agar lebih seragam di kawasan Asia Tenggara.
Meski demikian, perbedaan awal Ramadhan tetap berpotensi terjadi apabila ada perbedaan metode antara organisasi masyarakat Islam. Sebagian organisasi menggunakan metode hisab hakiki wujudul hilal, yang menetapkan awal bulan berdasarkan posisi bulan sudah berada di atas ufuk, tanpa menunggu terlihat atau tidaknya hilal. Perbedaan pendekatan ini kadang membuat awal puasa berbeda satu hari, meskipun dalam beberapa tahun terakhir cenderung lebih sering bersamaan.
