Di berbagai unggahan di media sosial, komentar miring terhadap warganet Asia Tenggara bukan hanya terbatas pada konteks konser. Beberapa serangan mencakup ejekan tentang latar belakang sosial, warna kulit, hingga stereotip tentang masyarakat ASEAN. Perdebatan ini kemudian menjadi arena di mana netizen dari berbagai negara Asia Tenggara bersatu untuk menanggapi komentar-komentar itu secara kolektif.
Dampak dari fenomena SEAblings tidak sebatas pada pertarungan komentar daring. Solidaritas ini menunjukkan bahwa ruang digital dapat menjadi tempat di mana identitas regional dan kebanggaan budaya dapat diperkuat sekaligus dikembangkan. Meski tentu ada sisi negatifnya — seperti konflik online yang memanas atau stereotip yang bertambah — gerakan ini tetap menjadi contoh bagaimana warganet ASEAN mampu saling mendukung dalam menghadapi narasi yang dirasakan merendahkan kawasan mereka.
Secara keseluruhan, SEAblings mencerminkan dinamika sosial baru di era digital: bagaimana komunitas regional terbentuk melalui interaksi online dan bereaksi terhadap isu lintas budaya. Fenomena ini juga mengingatkan bahwa komentar dan perang kata di dunia maya bisa memiliki pengaruh besar terhadap citra sosial dan hubungan antar komunitas digital di berbagai negara.
