Menjadi pemandangan umum di linimasa.
•ASEAN Bersatu di Dunia Maya
Menariknya, istilah ini mencerminkan fenomena sosial yang unik. Negara-negara ASEAN yang selama ini sering bersitegang di media sosial misalnya Indonesia vs Malaysia atau Thailand vs Filipina, justru menunjukkan solidaritas ketika merasa mendapat perlakuan tidak adil dari luar kawasan.
Rasa persatuan ini tidak didasari faktor politik resmi atau organisasi formal seperti Association of Southeast Asian Nations, melainkan terbentuk secara organik oleh interaksi digital.
Solidaritas tersebut lebih bersifat emosional dan spontan. Banyak warganet yang mengaku merasa “senasib” karena stereotip atau komentar negatif yang sering diarahkan kepada negara-negara Asia Tenggara secara umum.
Siapa Itu Knetz?
Baca Juga:Honda PCX 160 2026 Meluncur dengan Penyegaran Fitur dan Teknologi: Skutik Premium Makin Canggih dan IritXiaomi Pad 8 Siap Mengguncang Pasar Tablet: Layar Lebih Tajam, Performa Kencang, dan Ekosistem Makin Solid
Istilah “knetz” sendiri merupakan singkatan dari “Korean netizens”, yakni warganet Korea Selatan. Tidak semua knetz terlibat dalam perdebatan, tetapi istilah ini kerap dipakai secara general ketika terjadi konflik opini di media sosial.
Perlu digarisbawahi bahwa fenomena ini adalah dinamika antarwarganet, bukan konflik resmi antarnegara. Pemerintah atau institusi resmi seperti South Korea sama sekali tidak terlibat. Ini murni fenomena budaya digital.
Mengapa Bisa Viral?
Ada beberapa faktor yang membuat istilah “seablings” cepat menyebar:
•Sifatnya Relatable
Banyak netizen ASEAN merasa pernah mengalami stereotip atau komentar merendahkan dari luar kawasan.
•Nada Solidaritas yang Kuat
Kata ini membawa semangat persatuan, meski dalam konteks debat online.
•Didorong Algoritma Media Sosial
Konten yang mengandung drama, konflik, dan nasionalisme cenderung cepat viral.
•Mudah Diingat dan Unik
Gabungan kata yang tidak biasa membuatnya mudah dikenali.
Dalam hitungan hari, istilah ini menyebar luas dan digunakan lintas negara Asia Tenggara.
•Antara Nasionalisme dan Toxic Culture
Meski terdengar seperti candaan, fenomena ini juga memunculkan diskusi soal batas antara solidaritas dan toxic behavior. Beberapa perdebatan berkembang menjadi saling hina, body shaming, hingga rasisme.
Pakar komunikasi digital menilai fenomena ini sebagai bentuk “digital tribalism” kecenderungan membentuk kelompok berdasarkan identitas dan melawan kelompok lain secara kolektif di dunia maya.
