Muhammadiyah Tetapkan Awal Puasa Lebih Awal, Ini Penjelasan Metode Hisab dan Dampaknya bagi Umat

Puasa
Muhammadiyah biasanya sudah mengumumkan kalender Hijriah untuk satu tahun penuh. Foto: Muhammadiyah/tangkap layar - radarcirebon.tv
0 Komentar

Keputusan ini merupakan bagian dari konsistensi metodologis yang telah lama dipegang Muhammadiyah. Organisasi ini menilai bahwa hisab modern memiliki tingkat akurasi tinggi karena didasarkan pada ilmu astronomi yang presisi. Dengan demikian, kepastian tanggal dapat ditentukan secara objektif dan terukur.

1. Dampak di Tengah Masyarakat

Perbedaan awal puasa antara Muhammadiyah dan pemerintah bukanlah hal baru di Indonesia. Dalam beberapa tahun, awal Ramadan maupun Idulfitri bisa saja jatuh pada hari yang sama, namun pada tahun lain bisa berbeda satu hari.

Di tengah masyarakat, perbedaan ini umumnya disikapi dengan toleransi dan saling menghormati. Umat Islam yang mengikuti Muhammadiyah akan memulai puasa sesuai keputusan organisasi, sementara yang mengikuti pemerintah atau ormas lain menunggu hasil sidang isbat.

Baca Juga:Perbedaan Mendasar VinFast VF MPV dan Limo Green yang Wajib Diketahui PublikStok BBM Shell Jadi Sorotan Publik: Kondisi Ketersediaan Bahan Bakar di SPBU Shell dan Dampak bagi Konsumen

Pemerintah sendiri secara konsisten mengimbau masyarakat untuk menjaga persatuan dan tidak memperbesar perbedaan yang bersifat ijtihadiyah atau hasil penafsiran. Para ulama juga sering menegaskan bahwa perbedaan metode dalam penentuan awal bulan Hijriah memiliki dasar dalil masing-masing dan tidak perlu menjadi sumber perpecahan.

2. Perspektif Astronomi dan Fikih

Secara astronomi, posisi hilal memang dapat dihitung secara akurat hingga hitungan detik dan derajat. Namun, dalam perspektif fikih, terdapat perbedaan pandangan mengenai apakah cukup dengan “wujud” hilal atau harus memenuhi kriteria visibilitas tertentu agar dapat terlihat secara kasat mata.

Sebagian kalangan menggunakan kriteria imkanur rukyat, yaitu kemungkinan hilal dapat terlihat jika memenuhi tinggi minimal dan sudut elongasi tertentu. Kriteria ini digunakan oleh pemerintah Indonesia serta beberapa negara lain di kawasan Asia Tenggara.

Muhammadiyah, di sisi lain, tetap berpegang pada konsep wujudul hilal yang tidak mensyaratkan hilal harus terlihat, cukup sudah berada di atas ufuk. Perbedaan interpretasi inilah yang terkadang menghasilkan perbedaan tanggal awal puasa.

3. Edukasi dan Literasi Keagamaan

Penetapan awal puasa oleh Muhammadiyah juga menjadi momentum edukasi mengenai pentingnya literasi astronomi dan pemahaman fikih. Diskusi publik tentang hisab dan rukyat kerap meningkat menjelang Ramadan, memberikan ruang bagi masyarakat untuk memahami perbedaan secara ilmiah dan teologis.

0 Komentar