RADARCIREBON.TV- Memasuki Tahun Kuda Api 2026 dalam kalender Tionghoa, pembahasan seputar shio ciong kembali ramai diperbincangkan.
Dalam astrologi Tionghoa, setiap tahun diwakili oleh satu hewan zodiak dan dipengaruhi oleh satu dari lima elemen, yakni Kayu, Api, Tanah, Logam, dan Air. Kombinasi Kuda dan elemen Api pada 2026 diyakini menghadirkan energi yang dinamis, penuh semangat, tetapi juga berpotensi memicu ketegangan.
Istilah “ciong” dalam tradisi Tionghoa merujuk pada benturan energi antara shio kelahiran seseorang dengan shio yang sedang berkuasa di tahun berjalan. Secara klasik, shio yang berseberangan langsung dengan Kuda dalam siklus 12 tahunan adalah Shio Tikus. Selain itu, beberapa perhitungan astrologi juga memperhitungkan kombinasi tertentu yang bisa membuat shio lain mengalami tekanan atau ketidakharmonisan energi sepanjang tahun.
Baca Juga:Muhammadiyah Tetapkan Awal Puasa Lebih Awal, Ini Penjelasan Metode Hisab dan Dampaknya bagi UmatSamsung Galaxy S26 Ultra Hadir dengan Kamera Lebih Cerdas, Chipset Super Kencang, dan Layar Paling Imersif
Meski demikian, penting dipahami bahwa konsep ciong merupakan bagian dari sistem kepercayaan tradisional dan bukan kepastian mutlak mengenai nasib seseorang. Banyak praktisi feng shui dan astrologi Tionghoa menekankan bahwa ramalan berfungsi sebagai peringatan agar lebih berhati-hati, bukan sebagai vonis kesialan.
Tradisi Tolak Bala dalam Budaya Tionghoa
Dalam budaya Tionghoa, praktik tolak bala telah dilakukan turun-temurun sebagai bentuk ikhtiar spiritual untuk meredam energi negatif. Tradisi ini biasanya meningkat menjelang dan sesudah perayaan Tahun Baru Imlek. Masyarakat yang merasa shionya ciong kerap melakukan ritual tertentu sebagai simbol perlindungan.
Salah satu praktik yang cukup dikenal adalah sembahyang kepada Tai Sui. Dalam kepercayaan Taoisme, Tai Sui adalah dewa penjaga tahun yang diyakini memengaruhi peruntungan. Orang yang shionya dianggap bertentangan dengan energi tahun tersebut biasanya dianjurkan untuk melakukan doa atau sembahyang sebagai bentuk penghormatan dan permohonan kelancaran.
Di sejumlah klenteng di Indonesia, seperti di kawasan pecinan Jakarta, Semarang, atau Surabaya, sembahyang Tai Sui dilakukan dengan tata cara tertentu. Umat membawa dupa, lilin, serta kertas doa yang mencantumkan nama dan tanggal lahir. Ritual ini dilakukan dengan harapan agar potensi hambatan bisa diminimalkan.
Selain sembahyang, sebagian masyarakat juga mengenakan jimat atau aksesori tertentu yang dipercaya dapat menyeimbangkan energi. Misalnya, liontin berbentuk hewan shio yang bersahabat dengan Kuda atau ornamen berwarna merah yang identik dengan unsur keberuntungan dan perlindungan.
