Ketegangan ini bukan hanya bersifat lokal. Juventus, setelah kekalahan itu, dikabarkan mengirimkan kritik keras terhadap performa wasit dan bahkan ada konfrontasi langsung antara pemimpin klub dengan wasit di lorong stadion saat jeda. Itu menunjukkan seberapa besar dampak keputusan kontroversial tersebut terhadap atmosfer pertandingan.
Usai laga, banyak suporter Juventus yang bahkan menyerukan agar Bastoni tidak lagi dipanggil memperkuat Timnas Italia, memperluas polemik dari klub ke ranah nasional. Dukungan penuh kepada Bastoni justru datang dari rekan-rekan setimnya serta kalangan Inter yang menilai bahwa serangan pribadi terhadap pemain adalah bentuk perilaku yang tidak bisa diterima dan jauh dari semangat sportifitas.
Situasi ini memicu debat luas tentang antisipasi kesalahan wasit dan penggunaan teknologi seperti VAR dalam situasi kartu kuning dan merah, serta perlindungan terhadap pemain dari serangan verbal dan ancaman online. Banyak komentator meyakini bahwa insiden semacam ini menyoroti pentingnya edukasi suporter dan standar perilaku di dunia sepak bola modern.
Baca Juga:Klasemen BRI Super League: Borneo FC Bertahan di Papan Atas Antara Dua Raksasa5 Rekomendasi Kado Imlek Selain Angpao yang Cocok untuk Keluarga & Teman
Secara keseluruhan, insiden Bastoni yang mematikan kolom komentar media sosialnya setelah Derby d’Italia itu menjadi sisi lain dari pertandingan klasik antara Inter dan Juventus — mencerminkan betapa besar tekanan dan emosi yang terlibat di salah satu rivalitas paling sengit dalam sepak bola Italia.
