RADARCIREBON.TV – Memasuki tahun 2026, burnout bukan lagi sekadar istilah populer di media sosial, melainkan persoalan nyata yang dihadapi generasi Z di dunia kerja. Kelompok yang lahir antara 1997 hingga 2012 ini tercatat sebagai generasi paling rentan mengalami kelelahan kerja dibandingkan generasi lainnya.
Berbagai survei dan penelitian global menunjukkan tingginya tingkat stres di kalangan pekerja muda. Laporan American Workforce Burnout terbaru mengungkapkan bahwa sekitar 74 persen pekerja Gen Z mengalami stres kerja pada level sedang hingga tinggi. Angka tersebut melampaui generasi milenial dan kelompok usia lainnya dalam survei tahun 2025. Kondisi ini juga diiringi menurunnya kepercayaan terhadap kepedulian perusahaan dalam menjaga kesehatan mental karyawan.
Statistik global tahun 2026 turut memperkuat temuan tersebut. Tingkat burnout pekerja Gen Z tercatat 35 persen lebih tinggi dibandingkan milenial. Burnout yang mereka alami tidak hanya berupa kelelahan fisik, tetapi juga kelelahan emosional akibat tuntutan kerja yang tidak terkelola dengan baik. Dampaknya terlihat dari meningkatnya penggunaan cuti kesehatan mental serta kebutuhan akan dukungan internal perusahaan yang lebih optimal.
Faktor Pemicu Burnout Gen Z
Baca Juga:Format FIFA Series 2026: Timnas Indonesia Hadapi Saint Kitts & Nevis di Laga Pembuka yang Menentukan8 Menu Buka Puasa Irit dan Lezat Cocok Buat Anak Kos, Gak Bikin Kantong Bolong!
Burnout di kalangan Gen Z tidak semata-mata disebabkan oleh beban kerja berlebih. Sejumlah faktor lain turut berperan, seperti ekspektasi tinggi tanpa dukungan manajemen yang memadai, ketidakjelasan jalur karier, hingga tekanan ekonomi dan perubahan teknologi yang cepat. Kombinasi tekanan internal dan eksternal ini menciptakan lingkungan kerja yang rentan memicu stres berkepanjangan tanpa ruang pemulihan yang cukup.
Selain itu, budaya kerja modern seperti hustle culture semakin memperparah situasi. Budaya yang mengagungkan produktivitas tanpa batas ini sering kali diinternalisasi sebagai standar kesuksesan oleh pekerja muda. Akibatnya, banyak dari mereka memaksakan diri bekerja melebihi kapasitas, yang pada akhirnya berdampak pada penurunan motivasi, gangguan kesehatan mental, serta menurunnya kualitas hidup secara keseluruhan.
Dampak terhadap Dunia Kerja
Burnout tidak hanya berdampak pada individu, tetapi juga memengaruhi dinamika tenaga kerja secara luas. Tingginya tingkat kelelahan kerja menjadi salah satu alasan utama meningkatnya keinginan pindah kerja di kalangan Gen Z. Studi menunjukkan tiga dari empat pekerja Gen Z mempertimbangkan untuk mencari pekerjaan baru karena kondisi kerja yang tidak mendukung, termasuk tekanan berlebih dan kurangnya perhatian terhadap kesehatan mental.
