Di Indonesia, fenomena serupa juga teridentifikasi melalui sejumlah riset lokal. Pekerja Gen Z dilaporkan memiliki tingkat kebahagiaan kerja yang relatif lebih rendah dibandingkan generasi lain. Faktor seperti work-life balance dan fleksibilitas kerja menjadi penentu utama kepuasan mereka. Ketika kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, risiko burnout pun semakin meningkat.
Solusi dan Langkah Penanganan
Mengatasi burnout pada generasi Z memerlukan pendekatan komprehensif dari perusahaan maupun individu. Perusahaan perlu memperkuat program kesejahteraan mental, menyediakan jalur pengembangan karier yang jelas, serta menerapkan kebijakan kerja fleksibel yang menghormati batas waktu kerja karyawan.
Di sisi lain, pekerja juga perlu membangun kesadaran untuk menetapkan batasan yang sehat, menjaga keseimbangan hidup, serta berkomunikasi secara terbuka dengan atasan mengenai beban kerja dan kebutuhan dukungan. Kolaborasi antara kedua pihak menjadi kunci untuk menciptakan lingkungan kerja yang lebih sehat dan berkelanjutan.
Baca Juga:Format FIFA Series 2026: Timnas Indonesia Hadapi Saint Kitts & Nevis di Laga Pembuka yang Menentukan8 Menu Buka Puasa Irit dan Lezat Cocok Buat Anak Kos, Gak Bikin Kantong Bolong!
Fenomena burnout pada generasi Z tidak dapat dipandang sebelah mata. Data dan realitas yang ada menunjukkan perlunya langkah serius agar dunia kerja mampu beradaptasi dengan kebutuhan generasi baru, sekaligus menciptakan tenaga kerja yang sehat, produktif, dan berdaya saing di era modern.
