Kongres X Permahi di Cirebon memperlihatkan satu hal: mahasiswa hukum tidak ingin sekadar menjadi penggembira dalam demokrasi. Mereka ingin hadir sebagai pengawal, pengkritik, sekaligus mitra strategis pemerintah.
Semangat yang mengalir di ruang kongres itu adalah semangat perjuangan generasi muda bukan perjuangan melawan pemerintah, tetapi melawan penyimpangan.
Bukan perlawanan terhadap kekuasaan, melainkan perlawanan terhadap ketidakadilan. Di tengah arus pragmatisme politik dan polarisasi publik, sikap “dukung-kritis” yang ditegaskan Andi Maruli menjadi tawaran jalan tengah: mendukung kebijakan yang pro-rakyat, namun tetap menjaga jarak kritis demi tegaknya hukum.
Baca Juga:DPC Permahi Cirebon Raya Gelar Pembekalan Profesi AdvokatBPJS Gratis Off, PERMAHI Pertanyakan Keberpihakan DPRD dan Pemkab Cirebon
Cirebon menjadi saksi bahwa api idealisme mahasiswa hukum belum padam. Dari kota pesisir ini, pesan itu dikirim ke pusat kekuasaan: generasi muda siap berdiri di garis depan mengawal demokrasi, menjaga integritas, dan memastikan hukum tetap berpihak kepada rakyat.
