Implementasi Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional atau DTSEN di daerah masih menghadapi sejumlah kendala. Di Kabupaten Cirebon, pendataan sosial ekonomi belum berjalan optimal akibat rendahnya pemahaman masyarakat serta keterbatasan sumber daya manusia di tingkat desa dan kelurahan.Implementasi Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional atau DTSEN di daerah masih menghadapi sejumlah kendala. Kepala Dinas Sosial Kabupaten Cirebon, Hafidz Iswahyudi, menjelaskan bahwa DTSEN masih menghadapi tantangan utama berupa kurangnya pemahaman masyarakat terhadap tujuan dan manfaat pendataan. Kondisi ini membuat sebagian warga belum sepenuhnya terbuka saat memberikan informasi, sehingga berpotensi menimbulkan kesalahpahaman dan ketidaksesuaian data di lapangan.Selain faktor masyarakat, keterbatasan sumber daya manusia di tingkat desa dan kelurahan juga menjadi hambatan serius. Jumlah petugas pendata yang terbatas berpengaruh pada akurasi dan kecepatan proses pengumpulan data, terutama di wilayah dengan cakupan penduduk yang luas.Hafidz menambahkan, optimalisasi DTSEN memerlukan penguatan kapasitas aparatur desa serta peningkatan sosialisasi kepada masyarakat. Dengan pemahaman yang lebih baik, diharapkan partisipasi warga dalam pendataan dapat meningkat dan menghasilkan data yang lebih valid.Ke depan, pemerintah daerah berkomitmen untuk terus melakukan pembenahan dan koordinasi lintas sektor, agar DTSEN dapat menjadi basis data yang akurat. Data tersebut diharapkan mampu mendukung penyaluran program bantuan sosial dan perumusan kebijakan yang lebih tepat sasaran.