Kerja Keras Terbayar! Mark McMorris Sabet Emas, Usai Tiga Kali Olimpiade Dapat Perunggu

Mark McMorris
Mark McMorris Foto ; Mark McMorris
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Di udara yang tipis dan suhu yang menggigit tulang di Livigno Snow Park, seorang pria 32 tahun menolak tunduk pada waktu.

Namanya Mark McMorris. Dan di Olimpiade Musim Dingin Milano Cortina 2026, ia tidak sekadar menang. Ia menampar keraguan.

Selama bertahun-tahun, McMorris seperti dikutuk oleh warna perunggu. Sochi 2014. PyeongChang 2018. Beijing 2022. Tiga kali naik podium, tiga kali pula berdiri di anak tangga ketiga. Konsisten, iya. Legendaris? Hampir. Tapi emas selalu terasa seperti hantu yang mengejek dari kejauhan.

Baca Juga:Jelang Laga Lawan Ratchaburi, Persib Bandung Dapat Kekuatan SpiritualAnalisa Penyebab Kekalahan Juventus Atas Galatasaray, Juan Cabal Paling Disorot

Rabu (18/2), hantu itu akhirnya ditangkap. Emas yang Ditunggu 12 Tahun. Final Slopestyle Putra berlangsung seperti duel lintas generasi. Juara bertahan asal Tiongkok, Su Yiming, tampil tanpa gentar. Di Run 2, ia memaku papan skor dengan 92,50. Skor tinggi. Tekanan nyata. Pesan yang jelas: era lama sudah selesai.

Tapi McMorris bukan tipe yang menyerah pada narasi. Tampil terakhir di Run 3, ia meluncur dengan ketenangan yang hanya dimiliki mereka yang pernah jatuh dan selamat. Rail demi rail ia hajar dengan presisi teknis yang nyaris klinis. Tidak berlebihan. Tidak ragu. Lalu datang momen penentu: Backside Triple Cork 1620.

Trik itu bukan sekadar rotasi tiga kali dengan putaran 1620 derajat. Itu adalah pernyataan perang terhadap usia, cedera, dan ekspektasi. Pendaratannya? Bersih. Halus. Seolah hukum gravitasi sudah diajak kompromi.

Skor 94,33 muncul. Dan tak ada yang bisa mengejarnya. Di bawahnya, Su Yiming harus puas dengan perak. Sementara rider Norwegia, Marcus Kleveland, mengamankan perunggu. Generasi muda berderet. Tapi emas tetap milik yang paling keras kepala.

Kemenangan ini tidak lahir dari lintasan mulus. Dua minggu sebelum kompetisi, McMorris mengalami kecelakaan mengerikan saat latihan. Dalam olahraga ekstrem, kata “kecelakaan” bukan metafora.

Banyak atlet seusianya mungkin memilih realistis. Menjaga tubuh. Menghitung risiko. Tapi McMorris justru menghitung peluang.

Ia lolos kualifikasi di posisi ketiga, cukup untuk bertahan, tapi belum cukup untuk menakutkan. Di final, ia berubah. Seolah rasa sakit hanya bahan bakar tambahan.

Baca Juga:Leg Kedua Persib vs Ratchaburi : Misi Nyaris Mustahil Persib Untuk Lolos Fase BerikutnyaHansi Flick Akui Barcelona Bermain Buruk Saat Lawan Girona

Di usia 32 tahun, saat sebagian pesaingnya bahkan belum lahir ketika ia memulai karier profesional, McMorris mencetak sejarah sebagai snowboarder pertama yang meraih medali di empat Olimpiade beruntun: 2014, 2018, 2022, dan kini 2026. Konsistensi seperti itu bukan kebetulan. Itu obsesi yang dirawat lama.

0 Komentar