RADARCIREBON.TV – Pelatih Juventus, Luciano Spalletti tidak mencari dalih. Nada bicaranya dingin, tapi pesannya tajam.
“Kami seperti mundur tiga langkah ke belakang. Kepribadian kami buruk. Kami gagal memahami tingkat kesulitan dan bahaya dari apa yang kami lakukan,” ujarnya dalam keterangan resmi klub.
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi maknanya dalam. Juventus bukan hanya kalah secara teknis. Mereka kalah secara mental.Juventus datang ke Istanbul dengan dada dibusungkan, pulang dengan kepala tertunduk. Di bawah gemuruh Rams Park, mereka bukan sekadar kalah, mereka dipermalukan.
Baca Juga:Analisa Penyebab Kekalahan Juventus Atas Galatasaray, Juan Cabal Paling DisorotLeg Kedua Persib vs Ratchaburi : Misi Nyaris Mustahil Persib Untuk Lolos Fase Berikutnya
Skor 5-2 dari Galatasaray pada leg pertama play-off fase gugur Liga Champions 2025/2026 menjadi tamparan keras yang bunyinya terdengar sampai Turin.
Atmosfer Rams Park memang terkenal kejam. Namun yang terjadi pada Juventus bukan semata soal tekanan tribun. Ini tentang pertahanan yang rapuh, disiplin yang luntur, dan mental yang runtuh ketika situasi tak lagi bersahabat.
Galatasaray membuka malam dengan ledakan cepat. Gabriel Sara menyambar bola muntah di kotak penalti dan menghantamkannya ke sisi kiri gawang. Tuan rumah unggul, stadion berguncang. Juventus sempat menjawab cepat
Koopmeiners memanfaatkan bola liar setelah sundulan Kalulu ditepis Ugurcan Cakir. Skor 1-1, seolah menjadi pertanda laga akan berjalan seimbang. Namun ilusi itu tak bertahan lama.Koopmeiners kembali mencetak gol, kali ini memaksimalkan umpan Weston McKennie dengan sepakan keras ke pojok atas gawang. Juventus berbalik unggul 2-1. Di momen itulah mereka seharusnya mengendalikan tempo, meredam emosi tuan rumah, dan bermain cerdas.
Yang terjadi justru sebaliknya. Galatasaray menolak tunduk. Noa Lang menyamakan kedudukan lewat tembakan rendah memanfaatkan bola muntah pertahanan Juventus lagi-lagi lambat membaca situasi.
Skor 2-2 sebelum jeda bukan sekadar angka, melainkan alarm keras yang tampaknya diabaikan. Memasuki babak kedua, Juventus seperti berjalan di atas pasir hisap. Gol ketiga Galatasaray lahir dari situasi bola mati. Sentuhan Sanchez yang tak sengaja bola mengenai tubuhnya dan mengecoh kiper menjadi simbol betapa malam itu tak ada yang berjalan sesuai rencana bagi Si Nyonya Tua.
