Luciano Spalletti Sebut Juventus Alami Kemunduran Usai Dibantai Galatasaray 5-2

Luciano Spalletti
Luciano Spalletti Foto : Luciano Spalletti
0 Komentar

Petaka belum selesai. Juan Cabal menerima kartu merah dari wasit Danny Makkelie. Keputusan yang membuat Juventus bukan hanya tertinggal, tetapi juga pincang. Bermain dengan 10 orang di Istanbul sama saja seperti mengundang badai masuk ke ruang tamu.

Dan badai itu benar-benar datang.

Noa Lang menambah penderitaan lewat gol keduanya, sebelum Sacha Boey menutup pesta dengan gol kelima. Skor 5-2 bukan sekadar kekalahan; itu adalah pernyataan dominasi.

Kini Juventus menghadapi realitas pahit. Defisit tiga gol bukan urusan sepele di fase gugur Liga Champions. Di leg kedua nanti di Turin, mereka harus menang dengan selisih lebih dari tiga gol untuk lolos langsung ke babak berikutnya. Menang tiga gol? Itu pun baru cukup untuk memaksa perpanjangan waktu.

Artinya, tidak ada ruang untuk kesalahan sekecil apa pun.

Baca Juga:Analisa Penyebab Kekalahan Juventus Atas Galatasaray, Juan Cabal Paling DisorotLeg Kedua Persib vs Ratchaburi : Misi Nyaris Mustahil Persib Untuk Lolos Fase Berikutnya

Masalahnya, apakah Juventus memiliki kapasitas untuk mencetak empat gol tanpa kebobolan? Pertahanan mereka yang mudah panik di bawah tekanan menjadi tanda tanya besar. Lini tengah yang kehilangan kontrol saat tempo meningkat juga perlu dievaluasi. Dan yang paling krusial: mentalitas.

Liga Champions bukan panggung bagi tim yang mudah goyah. Di Istanbul, Juventus terlihat seperti tim yang belum siap menerima pukulan balik.

Leg kedua akan menjadi ujian stamina fisik dan mental. Mereka tak hanya harus menyerang habis-habisan, tetapi juga menjaga agar tidak kebobolan satu gol pun yang bisa membuat misi kian nyaris mustahil. Satu gol Galatasaray di Turin akan memaksa Juventus mencetak lima untuk lolos otomatis.

Ironisnya, Juventus dikenal dengan sejarah panjangnya di Eropa, dengan reputasi sebagai klub yang matang dalam duel-duel besar. Namun di Rams Park, reputasi itu runtuh dalam 90 menit yang brutal.

Kini pertanyaannya sederhana tapi menyakitkan: apakah ini awal kebangkitan dramatis di Turin, atau bab terakhir yang memalukan dari petualangan Eropa musim ini?

Karena jika mereka kembali tampil setengah hati seperti di Istanbul, leg kedua tak akan menjadi ajang kebangkitan melainkan sekadar formalitas sebelum tirai ditutup.

0 Komentar