RADARCIREBON.TV – Jika Inggris pernah gaduh oleh dongeng ajaib bernama Leicester City musim 2015/2016, ketika Jamie Vardy berlari seperti dikejar takdir, N’Golo Kante menyapu lini tengah tanpa lelah, dan dunia menertawakan para peramal yang salah total, maka Italia kini sedang menatap sebuah anomali lain yang mulai terasa tidak lucu bagi para raksasa.
Namanya Como. Ya, Como. Klub yang lebih sering diasosiasikan dengan danau indah dan villa selebritas ketimbang ambisi juara. Kini mereka nangkring di posisi keenam Serie A, memainkan apa yang orang-orang mulai sebut sebagai “Fabregas Ball”. Sebuah istilah yang terdengar seperti lelucon, tapi klasemen tidak pernah bercanda.
Di bawah komando Cesc Fabregas, Como bukan sekadar tim promosi yang numpang lewat. Mereka tampil berani, agresif, dan ini yang paling menyakitkan bagi para mapan efektif. Tiga gol tanpa balas ke gawang Lazio di laga terakhir, setelah itu Como sukses menahan imbang raksasa Italia bertabur bintang AC Milan, bukanlah hasil keberuntungan wasit atau pantulan mistis. Itu adalah pernyataan.
Baca Juga:Como Didukung Juara Piala Dunia, Klub Milik Orang Indonesia Makin Dekat ke Liga ChampionsHasil Coppa Italia 2025/2026: Como Singkirkan Napoli, Ini Daftar 3 Tim Lolos Semifinal
Statistiknya bahkan terdengar seperti salah ketik: sekitar 35 gol dicetak, hanya 16 kali kebobolan. Rasio yang biasanya milik kandidat Scudetto, bukan klub yang dulu dipandang sebelah mata. Pertahanannya disiplin, transisinya cepat, dan lini depannya klinis. Ironisnya, mereka melakukannya tanpa skuad bertabur harga selangit.
Di lini serang, ada nama yang membuat para pencari bakat menggaruk kepala: Nico Paz, eks wonderkid Real Madrid Castilla. Pemain muda yang dulu dianggap proyek masa depan Madrid, kini menjadi simbol kebangkitan Como. Paz bermain tanpa beban reputasi klub besar, tapi dengan kualitas yang jelas bukan kaleng-kaleng. Kreatif, tajam, dan cukup berani untuk mencoba hal yang tak semua pemain Serie A mau lakukan.
Dan di sinilah letak ironi paling nikmatnya. Como bukan milik taipan minyak Timur Tengah. Bukan pula bagian dari jaringan multiklub yang dikendalikan konglomerat global. Klub ini dimiliki pengusaha Indonesia. Di saat sebagian publik dalam negeri sibuk meragukan kualitas sepak bola nasional sendiri, justru ada sentuhan Indonesia yang ikut menulis cerita indah di Italia.
