Bangga? Seharusnya. Karena di Eropa, identitas pemilik bukan sekadar tempelan. Ia adalah fondasi visi. Como dibangun perlahan, dengan kesabaran, bukan sekadar belanja panik demi headline. Fabregas diberi ruang meracik ide. Pemain muda diberi panggung. Dan hasilnya mulai terasa.
Tentu, perjalanan masih panjang. Serie A bukan liga yang ramah pada kisah dongeng. Sejarah menunjukkan bahwa sistem akan selalu berusaha mengembalikan “ketertiban”. Namun Leicester dulu juga ditertawakan. Vardy dianggap striker buangan, Kante terlalu kecil, dan Claudio Ranieri disebut sekadar pengisi kursi.
Kita tahu bagaimana akhirnya. Apakah Como akan juara? Terlalu dini untuk mabuk optimisme. Tapi satu hal jelas: mereka sudah membuat para elite merasa tidak nyaman. Dan dalam sepak bola, membuat raksasa gelisah adalah tanda bahwa sesuatu sedang berubah.
Baca Juga:Como Didukung Juara Piala Dunia, Klub Milik Orang Indonesia Makin Dekat ke Liga ChampionsHasil Coppa Italia 2025/2026: Como Singkirkan Napoli, Ini Daftar 3 Tim Lolos Semifinal
Dari danau yang tenang, kini gelombang mulai membesar. Dan jika ini benar-benar dongeng baru, maka Italia sebaiknya bersiap. Karena terkadang, keajaiban tidak datang dengan trompet. Ia datang perlahan, lalu tiba-tiba sudah berada di posisi enam mengetuk pintu Eropa, sambil tersenyum sinis.
