نَوَيْتُ صَوْمَ الْغَدِ مِنْ هٰذِهِ السَّنَةِ عَنْ فَرْضِ رَمَضَانَ
Nawaitu shaumal ghadi min hādzihis sanati ‘an fardhi Ramadhāna
Artinya: Aku berniat puasa esok hari pada tahun ini perihal kewajiban Ramadhan.
5. Lafal dari I’anatut Thalibin (Redaksi Singkat)
نَوَيْتُ صَوْمَ رَمَضَانَ
Nawaitu shauma Ramadhāna
Artinya: Aku berniat puasa bulan Ramadhan.
6. Lafal dari I’anatut Thalibin (Alternatif Singkat)
نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ مِنْ/عَنْ رَمَضَانَ
Nawaitu shauma ghadin min/‘an Ramadhāna
Artinya: Aku berniat puasa esok hari pada bulan Ramadhan.
Lebih dari Sekadar Bacaan
Perbedaan redaksi dalam kitab-kitab tersebut menunjukkan keluasan khazanah fikih Islam. Namun substansinya tetap sama: ada niat, ada kesengajaan, dan ada kesadaran bahwa puasa yang dijalankan adalah kewajiban Ramadhan.
Baca Juga:Jadwal Buka Puasa Ramadhan 1447 H Wilayah Jakarta Selama SebulanMengapa Salat Tarawih Sangat Istimewah? Inilah Keutamaan di Bulan Suci Ramadhan
Di tengah kesibukan menyiapkan sahur, alarm yang berdering dini hari, dan kantuk yang masih berat, meluangkan beberapa detik untuk menghadirkan niat dengan sungguh-sungguh adalah awal dari ibadah yang bernilai besar.
Ramadhan mengajarkan bahwa amal besar selalu dimulai dari niat yang tulus. Sebelum fajar menyingsing, sebelum azan Subuh berkumandang, pastikan hati telah lebih dulu berbisik: ini semua karena Allah.
Semoga setiap niat yang terucap menjadi cahaya, setiap puasa menjadi penghapus dosa, dan setiap malam Ramadhan menjadi saksi kedekatan kita kepada-Nya.
