Sahroni Comeback di Senayan: Sahroni Kembali ke Kursi Pimpinan Komisi III

Ahmad Sahroni
Ahmad Sahroni Comeback Foto : Ahmadsahroni88
0 Komentar

RADARCIREBON.TV – Comeback. Dalam sepak bola, istilah ini identik dengan tim yang sempat tertinggal jauh, diragukan, bahkan nyaris dianggap selesai, lalu bangkit, menyamakan kedudukan, dan pada akhirnya berbalik unggul hingga menang. Dramatis, penuh tensi, dan sering kali menjadi cerita paling dikenang dalam satu musim kompetisi.

Narasi semacam itu kini mengiringi kembalinya Ahmad Sahroni ke kursi pimpinan Komisi III DPR RI. Setelah sebelumnya dijatuhi sanksi etik oleh Mahkamah Kehormatan Dewan (MKD), Sahroni kembali dilantik memimpin komisi yang membidangi hukum, HAM, dan keamanan, sebuah posisi yang sarat sorotan dan tak pernah sepi dari kontroversi.

Bagi Partai NasDem, ini bukan drama. Ini prosedur. Wakil Ketua Umum NasDem, Saan Mustopa, menegaskan bahwa semua sudah berjalan sesuai mekanisme. MKD telah memutuskan, masa sanksi sudah dijalani, dan pimpinan DPR telah menetapkan kembali. Secara administratif dan etik, perkara dianggap selesai.

Baca Juga:Rumah Ahmad Sahroni Digeruduk Massa: Mobil Mewah Hingga Barang DijarahAlasan Surya Paloh Nonaktifkan Ahmad Sahroni dan Nafa Urbach dari DPR

Secara formal, tak ada yang bisa diperdebatkan. Sistem bekerja. Proses ditempuh. Putusan dilaksanakan. Jika sepak bola mengenal wasit sebagai pemegang otoritas akhir di lapangan, maka di DPR, MKD adalah pengadil etiknya. Ketika peluit panjang dibunyikan, pertandingan dinyatakan usai.

Namun politik bukan hanya soal skor akhir. Ia juga soal bagaimana publik membaca jalannya pertandingan.

Komisi III bukan sekadar komisi biasa. Ia adalah etalase penegakan hukum di parlemen. Di sanalah berbagai isu besar dari reformasi hukum hingga pengawasan aparat dibahas dan diputuskan. Karena itu, setiap dinamika yang menyentuh integritas pimpinannya akan selalu mendapat perhatian ekstra.

NasDem menambahkan alasan pengalaman sebagai pertimbangan utama. Dua periode memimpin Komisi III menjadi modal yang tak kecil. Dalam dunia yang kompleks seperti politik hukum, pengalaman ibarat jam terbang membentuk insting, memperluas jaringan, dan mempercepat adaptasi.

Jika dianalogikan dengan sepak bola, Sahroni bukan pemain debutan. Ia sudah memahami medan, mengenal ritme, dan tahu bagaimana membaca arah permainan. Ketika tertinggal karena sanksi etik, ia tak keluar lapangan sepenuhnya. Ia menunggu waktu, menjalani masa hukuman, lalu kembali ke starting line up, kali ini bukan sekadar menyamakan skor, tetapi kembali memimpin permainan.

0 Komentar