RADARCIREBON.TV – Malam Eropa kembali menyisakan cerita getir dan kejutan. Leg pertama play-off 16 besar Liga Europa UEFA, Jumat (20/2/2026) dini hari WIB, tak hanya menghadirkan drama skor, tetapi juga tanda tanya besar terutama bagi publik Indonesia yang menunggu satu nama: Calvin Verdonk.
Sorotan utama datang dari Turki. Fenerbahçe yang tampil di hadapan pendukungnya sendiri justru dipermalukan Nottingham Forest dengan skor telak 0-3. Tim tamu tampil tanpa ampun. Murillo membuka keran, Igor Jesus menggandakan tekanan, dan Morgan Gibbs-White menutup malam dengan gol yang terasa seperti palu godam. Pasukan Vítor Pereira tampil efektif, rapi, dan klinis membungkam atmosfer panas Istanbul dalam sekejap.
Di Norwegia, Bologna mencuri kemenangan tipis 1-0 atas Brann lewat gol Santiago Castro. Bukan kemenangan besar, tetapi cukup untuk membuat leg kedua terasa lebih ringan. Sementara itu, kejutan lain terjadi di Prancis. Lille OSC justru tersungkur di kandang sendiri. Mereka kalah 0-1 dari Red Star Belgrade akibat gol Franklin Tebo Uchenna sebuah hasil yang membuat publik Stade Pierre-Mauroy terdiam.
Baca Juga:Beda Peruntungan Calvin Verdonk dan Dean James di Panggung Liga EuropaHasil Lengkap Liga Europa Malam Ini: Kejutan Beruntun! Roma Hajar Celtic 3-0, Lille Tanpa Verdonk Tersungkur
Hasil lain tak kalah sengit: Dinamo Zagreb tumbang 1-3 dari Genk, PAOK menyerah 1-2 dari Celta Vigo, Celtic dihajar Stuttgart 1-4, Ludogorets menang 2-1 atas Ferencvaros, dan Panathinaikos bermain imbang 2-2 kontra Viktoria Plzen. Pesta gol, kejutan, dan tekanan mental menjadi warna malam itu.
Namun bagi Indonesia, sorot lampu justru tertuju ke bangku cadangan. Lagi-lagi, Verdonk hanya menjadi penonton. Tak satu menit pun diberikan. Bahkan saat timnya butuh perubahan tempo, butuh energi baru, namanya tetap tak dipanggil. Pertanyaannya sederhana: ada apa?
Beberapa bulan terakhir, posisinya memang tergerus. Ia kalah bersaing, tersisih dari pilihan utama. Tetapi apakah performanya sedemikian buruk hingga tak layak mendapat kesempatan? Atau ini soal taktik? Atau kepercayaan pelatih yang mulai memudar? Dalam sepak bola modern, momentum adalah segalanya. Sekali hilang, sulit merebutnya kembali.
Yang membuat publik heran, Verdonk bukan pemain sembarangan. Ia punya pengalaman, ketenangan, dan fleksibilitas posisi. Saat jadwal padat dan rotasi menjadi kebutuhan, bukankah pemain seperti dirinya justru relevan? Ironisnya, ketika laga besar datang, namanya hanya tertulis di daftar cadangan tanpa cerita lanjutan.
