RADARCIREBON.TV – Nama Dwi Sasetyaningtyas tiba-tiba meledak di ruang publik digital. Pengusaha yang juga aktif sebagai influencer itu mendadak jadi bahan perbincangan, bukan karena lini bisnisnya, melainkan karena satu unggahan yang memicu tafsir ke mana-mana. Publik bertanya-tanya: sebenarnya apa maksudnya?
Tyas sapaan akrabnya membagikan kabar bahwa anak keduanya resmi memperoleh kewarganegaraan Inggris. Dalam video yang diunggah di Instagram, ia memperlihatkan surat dari otoritas Inggris yang menyatakan status tersebut telah disahkan.
“Ini adalah surat dari home office Inggris yang menyatakan kalau anak aku yang kedua udah diterima jadi Warga Negara Inggris,” ujarnya dalam video tersebut.
Baca Juga:Ketahui Program dan Ketentuan Baru dalam LPDP 2026Beasiswa LPDP 2026: Skema Pendanaan, Prioritas Studi, hingga Aturan Penerima Alami Sejumlah Perubahan Penting
Namun yang membuat gaduh bukan sekadar kabar kewarganegaraan itu. Dalam pernyataan yang menyertai unggahan, Tyas menyampaikan kalimat yang kemudian dianggap sensitif oleh banyak warganet: “cukup saya saja yang WNI, anak-anak saya jangan.”
Kalimat itu seperti bensin yang disiram ke bara. Tafsir berkembang liar. Ada yang menganggapnya sebagai bentuk kekecewaan personal, ada pula yang menilai pernyataan tersebut seolah merendahkan identitas sebagai Warga Negara Indonesia.
Dalam bagian lain, Tyas bahkan mengatakan, “Aku tahu dunia terlihat nggak adil, tapi cukup aku aja yang WNI, anak-anakku jangan. Kita usahakan anak-anak dengan paspor kuat WNA itu.”
Pernyataan inilah yang kemudian beredar luas, terutama di platform utas media sosial tersebut. Video tersebut ditonton puluhan ribu kali kali, disertai komentar bernada tajam hingga sarkastik.
Sebagian publik merasa tersinggung, apalagi setelah mengingat latar belakang Tyas sebagai mantan penerima beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP).
Statusnya sebagai eks awardee LPDP ikut diseret ke pusaran polemik. Beberapa komentar menyindir bahwa beasiswa tersebut bersumber dari dana negara, sehingga penerimanya diharapkan memiliki komitmen kebangsaan yang kuat.
“Ada banyak anak Indonesia yang kesulitan sekolah, guru yang gajinya kecil, sekolah pedalaman dengan fasilitas minim. Kalau LPDP ujungnya cuma membanggakan negara lain, malu-maluin,” tulis salah satu warganet.
Baca Juga:Jadwal Imsak dan Buka Puasa 20 Februari 2026, Wilayah DKI Jakarta dan Sekitarnya, Lengkap dengan Waktu SalatSahroni Comeback di Senayan: Sahroni Kembali ke Kursi Pimpinan Komisi III
Tak sedikit pula yang mempertanyakan apakah keputusan kewarganegaraan anaknya bertentangan dengan semangat nasionalisme yang selama ini dikaitkan dengan program beasiswa negara.
