Selain Struijk, PSSI terus mengevaluasi peluang untuk mendatangkan pemain lain dari diaspora yang masih bisa dinaturalisasi. Namun, proses ini seringkali melibatkan faktor kompleks, termasuk regulasi FIFA, keinginan pemain, serta strategi pengembangan tim nasional secara jangka panjang. Upaya PSSI tentunya tidak lantas berhenti, tetapi kisah Struijk menjadi pengingat bahwa meskipun program naturalisasi sudah menunjang prestasi, tantangan di bidang ini tetap nyata — terutama jika pemain memiliki ambisi kuat di liga top Eropa.
Pilihan ini juga memberi pelajaran bagi penggemar sepak bola Tanah Air bahwa mendatangkan pemain berdarah Indonesia bukan sekadar prosedur administratif, tetapi sebuah proses yang memerlukan kesepakatan penuh dari semua pihak — terutama si pemain sendiri.
